Pemerintah Adopsi Era Industri 4.0
MAKALAH
JUDUL
PEMERINTAH MELATIH SERIBU PEJABAT
ADOPSI ERA INDUSTRI 4.0
(
Memenuhi Tugas Mata Kuliah MSDM Lanjutan )
DISUSUN OLEH :
NAMA
:
LAKIEK SILIP
ANGKATAN
: 27
TUGAS : 3 Mata
Kuliah MSDM lanjuta
Dosen
Peng : Dr. Arius Kambu,
SE.,M.Si
PROGRAM STUDI MAGISTER MANAGEMENT
UNIVERSITAS
CENDERAWASIH JAYAPURA PAPUA 2018
======================================================
DAFTAR ISI
Judul
.............................................................................................................................1
Daftar Isi
.......................................................................................................................2
BAB
I Pendahulu
........................................................................................................4
1.1
Latar Belakang...........................................................................................4
1.2.
Tujuan
....................................................................................................4
1.3.
Manfaat .....
............................................................................................5
BAB Iii KAJIAN TEORITIS …………...………………………………………………….6
2.1 Tempat
Pertama Kali Revolusi Industri Dilahirkan ………………..……... 6
2.2 Proses
Revolusi Industri Terjadi …………………………………….……....6
2.3 Pengertian
dan Tujuan, Syarat, Kriteria Industri ……………………..…. 11
2.4 Jenis
Industri, Ciri-Ciri dan Pesebarannya ………………………………...11
BAB
III
Pembahasan
............................................................................................................14
BAB
IV Penutup
......................................................................................................20
a.
Kesimpulan
...........................................................................................20
b.
Daftar Pustaka
......................................................................................21
========================================================================
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Diawali dengan ditemukannya mesin
uap yang mendorong revolusi industri atau dikenal juga dengan industri 1.0 pada
tahun 1784, revolusi industri terus berkembang mulai saat itu. Revolusi
industri menyebabkan peralihan penggunaan tenaga manusia dan hewan yang
digantikan dengan teknologi mekanik. Industri 1.0 ini berkembang hingga akhir
abad 19, yang kemudian pada awal abad 20 digantikan dengan industri 2.0 yaitu
produksi massal yang menggunakan tenaga listrik. Pada awal tahun 1970 terjadi
revolusi industri ketiga yaitu industri 3.0, pada revolusi ini mulai dikenal
penggunaan alat elektronik dan IT untuk proses manufaktur otomatis. Proses
manufaktur otomatis ini mulai menggantikan tugas-tugas operator dengan mesin
dan robot. Revolusi industri keempat atau industri 4.0 terjadi pada tahun 2012,
industri 4.0 memperkenalkan proses produksi Cyber-Physical. Industri 4.0 ini mengarah kepada proses
manufaktur yang berbasis internet atau jaringan wireless. Penggunaan teknologi ini tidak hanya sebatas pada
komunikasi, akan tetapi juga mencakup kontrol dan kendali jarak jauh (Wahlster,
2012).
Pertumbuhan laju industri merupakan
andalan pemerintah dalam upaya meningkatkan perekonomian di Indonesia. Perekonomian
di Indonesia tidak akan berkembang tanpa dukungan dari peningkatan
perindustrian sebagai salah satu sektor perekonomian yang sangan dominan di
jaman sekarang.
Langkah pemerintah untuk mengadopsi era
industry ke eempat ini akan memberikan kesempatan dan peluang sebesar-besarnya
kepada seluruh pejabat dan swasta dan masyarakat untuk meningkatkan daya saing
di dunia persaingan serta perkembangan perekonomian Negara. Dengan adanya
peluang 4.0 ini pemerintah jelih melihat peluang ini secara mata terbuka dan
memanfaatkan peluang ini, jika peluang ini dilewatkan maka Negara ini berada
dalam kondisi perekonomian yang terburuk. Pelatihan tenaga yang terbuka ini
akan memberikan efek positif meningkatkan pengetahuan, pengalaman, untuk
perkembangan dan kemajuan bangsa ini.
Berdasarkan uraian tersebut di atas,
penulis berkeinginan mengangkat masalah Adopsi industry 4.0 terhadap perkembangan
perekonomian Indonesia. Makalah ini juga terdapat sejumlah faktor industri yang
berperan penting dalam perkembangan ekonomi di era globalisasi ini.
1.2 Tujuan Penulisan
Dalam
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
- Untuk mengetahui perkembangan industry awal hingga era baru
- Untuk mengetahui pengaruh perkembangan perindustrian terhadap perekonomian.
- Untuk mengetahui upaya pemerintah dalam meningkatkan perindustrian di Indonesia
- Untuk mengetahui upaya pemerintah mengahadapi era industry
- Mengatahui bagaimana proses revolusi industri terjadi.
- Mengetahui akibat yang ditimbulkan oleh revolusi industri.
- Mengetahui proses penerapan era digital idustri 4.0 di indonesia
1.3 Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah adopsi
era industri 4.0 memberi pemahaman yang
lebih kapada semua pembaca. Dimulai dari kelahiran revolusi industri, proses
terjadinya revolusi industri sampai era industry 4.0 dan pada akibat-akibat
yang ditimbulkan oleh revolusi industri itu sendiri.
Manfaat
yang dapat diperoleh dari penulisan makalah ini adalah:
- Bagi Negara – Negara maju, Industri 4.0 dapat menjadi cara terbaik untuk mendapatkan kembali daya saing insfrastruktur, khususnya bagi Negara-negara Eropa
- Bagi Negara-negara berkembangan, Industri 4.0 dapat membantu menyederhanakan rantai suplai produksi, yang dalam hal ini sangat dibutuhkan guna mengakali biaya tenaga kerja yang kian meningkat
- Bagi pemerintah dengan adanya industry 4.0 ini akan memperkuat regulasi IT
- Bagi sewasta meningkatkan daya saing yang efektif dalam persaingan era saat ini
- Sebagai salah satu tugas mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia lanjutan
- Menambah pemahaman dan cakrawala berfikir bagi penulis
==========================================================
BAB II
KAJIAN TEORITIS
2.1 Tempat Pertama Kali Revolusi Industri
Dilahirkan
Untuk
mengetahui mengapa Revolusi Industri terjadi di Inggris dan bukan terjadi di
tempat lain, yang perlu kita ketahui adalah syarat-syarat yang dapat
menimbulkan revolusi industri itu, pendapatan-pendapatan yang merupakan langkah
penting dalam perkembangannya dan akibat pentind dari revolusi itu. Ada
beberapa faktor yang mendorong revolusi industri terjadi di Inggris, yakni
sebagai berikut:
a)
Faktor
Geografis
Letak geografis Inggris yang
bersebelahan dengan samudra Atlantik memberikan banyak keuntungan bagi negara
ini dan biasanya disebut sebagai “samudra dunia” pada masa itu. Pergeseran
pusat kegiatan ekonomi dari Laut Tengah ke daerah pesisir Samudra Atlantik, ke
negara Inggris dan Belanda. Pergeseran ini disebabkan karena penemuan jalan
menuju benua Amerika dan timbulnya Kerajaan Turki-Islam dibagian timur Laut
Tengah. Akibatnya, sejak abad XVIII posisi Inggris yang terletak di Samudra
Pasifik memperoleh banyak keuntungan dari segi ekonomi, industri, dan
perdagangan yang menyebabkan kemakmuran negara Inggris mulai meningkat karena
keuntungan yang diperoleh.
b)
Faktor Modal
Kemakmuran yang mulai nampak di
Inggris pada abad XVIII mulai nampak dan menempatkan negara tersebut memiliki
banyak uang (modal). Selain itu, perolehan modal yang melimpah ini juga
didapatkan dari tanah jajahan, yakni: emas dari Benggala dan India. Emas yang
mengalir dari tanah jajahan merupakan salah satu syarat yang diperlukan bagi
pertumbuhan industri. Investasi modal digunakan untuk memperluas lalulintas
jalan-jalan di Inggris yang belum dapat dikatakan baik (jalan berpasir, sempit,
pada saat musim panas menjadi jalan yang berdebu dan dalam musim dingin menjadi
semacam kubangan). Dan dari pihak swasta ada yang berinisiatif memperbaiki
jalan-jalan namun dengan memungut cukai jika orang memakai jalan tersebut.
Tampilnya kaum borjuis merupakan
kesempatan yang baik untuk mendapatkan banyak keuntungan. Dengan cara harus
meninggalkan cara-cara lama yang tidak memadai maka dicarilah cara-cara baru
sebagai uapaya untuk meningkatkan usahanya. Misalnya ketika para pemilik
pengecor besi mengetahui bahwa mereka tidak dapat melayani permintaan barang
yang meningkat karena kekurangan bahan bakan pada masa itu karena masih
mengguanakan bahan bakar kayu maka dicobalah pemakainan batu bara yang ternyata
memiliki hasil lebih baik.
c)
Faktor Sumber
Daya Manusia
Inggris memiliki ilmuwan terkenal yang
berhasil mendorong banyaknya penemuan dalam bidang fisika dan teknologi terapan
seperti yang ditemukan oleh Thomas Newcomen (1663-1792), ia disebut sebagai
penemu pertama mesin uap yang dapat dipakai. Mesin tertua ini hanya dapat dipakai
naik turun saja dan dapat digunakan untuk pompa tambang. James Watt orang yang
berjasa sebagai pembuka jalan bagi modernisasi pertambangan (1736-1819),
penemuan mesin yang ditemukan oleh Thomas Newcomen kemudian disempurnakan oleh
James Watt ketika orang mulai tertarik untuk menggali tambang dengan arang batu
dan besi, gerak turun naik dijadikan gerak putar hingga dapat digunakan untuk
berbagai keperluan. James Hargreaves dikenal sebagai penemu mesin pintal
(...-1778), Richard Arkwright dikenal sebagai penemu mesin tenun(1732-1792),
Elie Whitney penemu cotton gin yakni alat yang dapat mengeluarkan biji dari
serabut kapas (1765-1825), dan George Stephenson dikenal sebagai pemnbuat
lokomotif dan pada tahun1830, ia berhasil mengendarai besi pertama antara
Liverpool dan Manchester dengan kecepatan antara 19-46 km/jam(1781-1840). Sumber
daya manusia ini merupakan salah satu komponen yang penting didalam revolusi
industri.
d)
Faktor Sumber
Daya Alam
Inggris memiliki sejumlah potensi daya
alam yang menunjang, seperti: besi dan batu bara yang jumlahnya sangat
melimpah, disamping tersedianya bahan mentah. Tersedianya sumber bahan mentah
ini sebagian didapatkan dari tanah-tanah jajahan yang kemudian diolah menjadi
barang jadi oleh mesin-mesin itu. Inggris memiliki armada laut yang sangat
tangguh dan armada niaganya sangat besar yang menjamin pengangkutan bahan-bahan
mentah dan barang-barang jadi ke dan dari pelabuhan-pelabuhan Inggris dengan
lancar dan aman. Para buruhpun tersedia dalam jumlah besar diperuntukkan guna
melayani mesin-mesin baru. Tenaga-tenaga buruh itu didapat dari bekas petani
kecil korban revolusi Agraria dan banyak juga yang diperoleh dari orang-orang
pencari kerja yang dahulu mendapat nafkah dari industri rumah tangga yang tidak
mampu bersaing dengan industri-industri besar yang mulai bermunculan.
2.2 Proses Revolusi Industri Terjadi
Revolusi
industri ini ditandai dengan adanya perubahan ekonomi dan teknik yang terjadi
di Inggris pada abad XVIII dan XIX. Untuk membahas terjadinya revolusi industri
kita terlebih dahulu membahas berbagai masalah yang medahului terjadinya
revolusi, seperti Revolusi Agraria, Pertekstilan, Transportasi, dan Industri
Besi dan Baja.
- Revolusi Agraria
Faktor penting dalam revolusi industri
adalah terjadinya perubahan-perubahan dalam bidang pertanian yang kemudian
disebut sebagai revolusi agraria. Sitem pembagian tanah untuk tujuan penggrapan
yang berlangsung dan merupakan warisan feodal abad pertengahan tidak dapat dipertahankan lagi, lebih-lebih pada awal abad XVIII mulai
terasa terjadinya pertambahan penduduk. Sistem manor yang menempatkan kedudukan
lord dan petani, corak ekonomi rumah tangga alam yang harus memenuhi kebutuhan
sendiri secara lambat laun mulai berubah kearah perdagangan pertanian menuju
pada sasaran hasil panen untuk kepentingan pasar.
Pada pertengahan abad XVIII terjadi gerakan pemagaran yang dianggap
sebagai gerkan revolusi Agraria di Inggris. Pera pemilik tanah memiliki
keinginan untuk meningkatkan hasil pertanian dan pertenakan dengan metode-metode
baru yang ditemukan oleh Jethro Tull, Lord Charles Townshend, dan Robert
Bakewell.
Sistem pemagaran dan ladang tertutup ini sangat menguntungkan bagi
pemilik tanah yang sebagai petani besar mengelola ladangnya sendiri namun
sangat tidak menguntungkan bagi golongan petani kecil yang pada akhirnya mereka
terpaksa menjual tanahnya kepada petani besar. Dengan demikian mereka menjadi
orang-orang yang tidak memiliki tanah dan untuk mencari nafkah mereka menjadi
buruh di usaha-usaha pertanian besar ataupun pabrik-pabrik yang sudah banyak
mulai bermunculan. Meskipun sistem pemagaran dan ladang tertutup ini memberikan
dampak negatif pada para petani kecil, tetapi dilihat dari kepentingan bangsa
Inggris secara keseluruhan, sistem ini merupakan suatu keharusan. Berkat sistem
ini produksi pertanian dan peternakan dapat ditingkatkan. Peningkatan ini
sangat perlu mengingat terjadinya peningkatan jumlah penduduk di Inggris. Dari
pertengahan hingga akhir abad XVIII penduduk Inggris dan Wales meningkat dari 6
juta menjadi 9 juta, dan seabad kemudian bahkan meningkat menjadi 36 juta jiwa.
Revolusi Agraria telah menempatkan metode baru di bidang pertanian
sehingga mendorong lebih cepatnya hasil-hasil pertanian seiring dengan laju
pertambahan penduduk pada masa itu. Akibat Revolusi Agraria telah ditemukan
tehnik unsur kimia untuk pertanian yang diciptakan oleh Von Liebig, seorang
sarjana kimia bangsa Jerman (1840) yaitu melalui pemupukan yang mengandung
unsur-unsur kimia, tanah bisa menjadi lebih subur dan banyak menghasilkan
tanaman-tanaman pangan.
- Revolusi Pertekstilan
Setelah tahun 1500 beberapa penemu
alat pintal berhasil. Pemakaian cara kerja mesin pintal dan tenun mendorong
terjadinya Revolusi Pertekstilan. Dapat kita katakan bahwa Revolusi
Pertekstilan merupakan awal Revolusi Industri. Alat untuk memisahkan biji-biji
kapas yang masih terbuat dari kayu membutuhkan banyak tenaga manusia dan hal
ini dinilai tidak efisien mengingat kebutuhan sandang sejak Abad XVIII di Eropa
mulai meningkat. Seperti kita ketahui bahwa pada masa itu sumber bahan mentah
kapas (tree wool) diimpor dari dunia timur dan proses pembuatan bahan sandang
masih manual termasuk pembuatan kain wool. John Kay of Bury (d.1764) telah
menemukan pengganti perkakas tenun manual dengan menggunakan mesin yang
pertama. Penemuan alat ini mendorong percepatan cara kerja alat itu dalam
memproses pembuatan kain. Dalam tahun
1700, produksi tekstil terbesar dan terkenal adalah Inggris. Akibat uang
melimpah, orang-orang dapat menanam modalnya dalam pemakaian mesin baru.
Penemuan masin-mesin baru ini mendorong banyak didirikan pabrik-pabrik tekstil
yang didirikan di tepi sungai-sungai deras karena daya pengeraknya adalah air
bukan lagi manusia. Namun setelah menggunakan tenaga uap, pabrik-pabrik dapat
didirikan dimanapun.
Penggatian dari tenaga manusia ke tenaga mesin yang bersifat mekanis,
tidak terlepas dari pertumbuhan penduduk Eropa yang meningkat. Daerah-daerah
koloni Inggris khususnya di Amerika Utara sangat membutuhkan sandang dan untuk
mencukupi hal tersebut, jumlah produksi harus ditingkatkan secara cepat melalui
penggunaan mesin. James Hargreave, Richard Arkwright, dan Elie Whitney
merupakan para penemu mesin baru dan berjasa menemukan cotton gin yaitu mesin
pemisah biji kapas dan memudahkan kapas tampak lebih putih. Sejak digunakan
cotton gin dalam waktu sehari menghasilkan ratusan pound kapas bersih dan
produksi kapas di Amerika Serikat melonjak tajam dari 189.000 pound pada
tahun1791 menjadi 2.000.000 pound dalam tahun 1860, dan patahun 1900 menjadi
5.000.000 pound.
Persaingan tekstil dari dunia Timur mendorong para pengusaha tekstil
Inggris untuk merebut kembali pasarannya di dalam negeri maupun di Eropa dan
harus dilakukan perubahan peningkatan produksi maupun kualias barang. Untuk
memenuhi hal tersebut perlu diciptakan mesin-mesin alat produksi baru.
- Revolusi Transportasi
Pertengahan Abad XVIII, pengangkutan barang dari satu tempat ke tampat
lain sangat lamban dari pada zaman pemerintahan Roma 15 abad sebelumnya
dikarenakan buruknya kondisi jalan-jalan. Jalan-jalan hampir tidak dapat
dilalui pada musim dingin, dan kuda-kuda beban serta sapi-sapi penarik
merupakan satu-satunya alat pengangkut yang dapat digunakan. Sebagian besar
kehidupan ekonomi di Inggris terpusat di daerah-daerah bagian timur, selatan,
dan disekitar kota London, dan pengangkutan barang lewat sungai-sungai dirasa
sudah mencukupi mengakibatkan belum adanya penanganan yang serius untuk
memperbaiki jalur perhubungan sampai pada pertengahan abad ini.
Sarana transportasi berupa
jalan-jalan, jembatan-jembatan, dan alat angkutan harus disiapkan dengan baik
baru disadari oleh Inggris sejak digunakannya batu bara sebagai bahan bakar
pengecor besi dan pengerak mesin-mesin uap. Kehidupan ekonomi sebagian besar
berubah ke utara karena pabrik-pabrik baru hampir semuanya berlokasi di utara
agar dekat dengan tambang-tambang batu bara. Prasarana jalan amat penting untuk
mengangkut bahan-bahan mentah serta keperluan-keperluan lainya ke pabrik-pabrik
dan perkampungan-perkampungan industri. Hal ini mempermudah dan memperlancar
pengangkutan barang-barang jadi dari daerah-daerah industri ke segala penjuru
negeri bahkan kesegala penjuru dunia. Kaum industrialis mendesak pemerintahan
agar jalan-jalan segera diperbaiki dan Parlemen memberikan respon positif
dengan perusahaan dengan apa yang dinamakan Turnpike Acts yaitu undang-undang
yang memberi wewenang kepada para tuan tanah dan usahawan yang berniat untuk
membangun dan memelihara jalan-jalan serta memungut bayaran dari orang-orang
yang menggunakan jalan tersebut. Dengan adanya undang-undang itu maka, dalam
waktu yang tidak lama jaringan jalan-jalan yang agak bermutu telah dibangun di
Inggris dibawah kekuasaan para pemegang Turnpike namun jalan-jalan itu masih
sukar ditemui apalagi saat musim dingin.
Baru pada awal Abad XIX dapat dibagun
jalan-jalan yang tahan terhadap segala cuaca setelah Telford dan John Mac Adam
menemukan cara-cara ilmiah untuk membangun jalan. Sementara itu, jalan-jalan
yang masih kurang baik dan pungutan yang dirasa memberatkan bagi pengguna
mendorong Duke of Brigewater untuk mengali saluran-saluran yang dapat digunakan
sebagai sarana angkutan air. Hal ini segera diikuti oleh pengusaha lain
sehingga dalam waktu yang relatif singkatjaringan saluran yang silang menyilang
didaratan Inggris telah meliputi ratusan mil.
Awal abad XIX dilakukan
percobaan-percobaan dengan kapal-kapal yang digerakkan oleh tenaga mesin uap
dengan hasil yang cukup memuaskan. Pada tahun 1820-an, kereta api pertama dicobakan
dengan hasil yang memuaskan pula. George Stephenson (1781-1848) berhasil
menemukan lokomotif yang digerakkan oleh tenaga uap dengan kecepatan 29 mil/jam
dari daerah Liverpool ke Manchester mengalahkan kecepatan kereta uap sebelumnya
yang memiliki kecepatan 5 mil/jam. Pemakaian transportasi dengan menggunakan
lokomotif temuan Stepehenson ini mendorong para usahawan untuk memperluas
jaringan kereta api di Inggris. Kereta api memiliki fungsi penting sebagai
sarana darat karena tidak hanya untuk membawa para penumpang tetapi dapat juga
digunakan untuk mengangkut barang. Maka, dibuatlah jalan-jalan kereta api di
pusat-pusat industri seperti yang terdapat di Birmingham, Manchester, Leeds,
dan Shaeffied, dan kemudian dihubungkan dengan setiap pelabuhan di London,
Southampton, Plymouth, Bristol, dan Liverpool.
Penggunaan mesin uap pada transportasi
berkembang dengan cepat dan membantu perkembangan industri di Inggris. Lebih
banyak bahan mentah, bahan bakar, dan bahan keperluan lainnya dapat diangkut ke
daerah-daerah industri, dan sebaliknya, banyak barang-barang jadi diangkut dan
dipasarkan kemanapun di dunia dengan lebih cepat dan murah.
- Revolusi Pengolahan Besi dan Batubara
Kebutuhan besi yang meningkat mempenggaruhi industri logam menjadi
keperluan pokok sebab perdagangan dan industri yang semakin luas. Sebelum tahun
1760an, penambangan besi dilakukan secara manual melalui tungku-tungku
sederhana dengan menggunakan arang kayu yang dinilai kurang efisien dan
hasilnya juga kurang maksimal dikarenakan pembuatan barang dari besi belum
melalui pemrosesan besi dalam tanur-tanur yang bersuhu tinggi. Sementara itu,
batubara menjadi menjadi barang tambang penting selama abad XVIII. Orang
pertama yang berhasil menemukan batu bara untuk bahan melebur besi adalah
Abraham Darby (sekitar tahun1700) dipicu penggunaan kayu hutan sebagai bahan
bakar sangat merugikan hutan di Inggris dan menjadi gundul. Melalui percobaan
itu, Darby membandingkan bahwa penggunaan arang kayu tidaklah efisien dan
menguntungkan jika dibanding dengan pemakaian biji batubara. Penggunaan biji
batubara ini juga lebih murah serta dapat menghasilkan barang-barang yang
terbuat dari besi dalam jumlah besar.
Penemuan Darby ini kemudian diperbaiki
dan disempurnakan oleh dua insinyur mesin, yakni John Smeaton (1724-1792) dan
Henry Cort (1740-1800). Dalam peleburan biji besi Darby menggunakan sumber
tenaga air dengan komponen isi empat silinder dilengkapi dengan piston dan
katup untuk mengerakkan roda air namun kedua insinyur itu menggunakan proses
baru yaitu puddling (genangan air). Png-iron (besi tuang) ditempatkan kedalam
reverberatory furnace (tungku yang bergema) kemudian dipanaskan dalam suhu
tinggi sampai berubah menjadi tidak lagi mempunyai unsur karbon (decarbonized)
yang berarti oksigennya terdapat dalam sirkulasi udara dalam tanur tersebut.
Berkat penemuan ini produksi besi meningkat dari 48.000 ton pada tahun 1740
menjadi 8.000.000 pada tahun 1884 dan 7,517 puddling dioperasikan. Inggris
dikenal sebagai negara penghasil besi dan baja yang berlimpah dan berkualitas
tinggi dan mendapat julukan workshop of the world yaitu bengkel Eropa karena
melimpahnya hasil industri besi dan juga menguasai pasar-pasar industri dunia
di samping menjadi anutan dalam teknologi metal. Industrialisasi ini juga
meluas ke kontinen, bahkan sampai Amerika Utara.
2.3 Dampak Yang Ditimbulkan oleh Revolusi
Industri
Revolusi Industri tidak hanya memacu
meningkatnya barang-barang produksi di Inggris namun juga dapat mengubah
struktur sosial kemasyarakatan. Perubahan ini menyentuh berbagai aspek
kehidupan sosial ekonomi, sistem politik, dan sistem kekuasaan.
Dampak
yang pertama adalah dalam masalah ekonomi yang membawa akibat sosial yang
mendalam. Yaitu terjadi perpindahan penduduk dari desa-desa ke daerah-daerah
industri yang sebagian besar terletak di Inggris barat laut. Ditinjau dari
aspek sosial, terjadinya perubahan struktur masyarakat. Sebelum lahirnya
revolusi industrio masyarakat Inggris merupakan masyarakat feodal, raja beserta
kaum bangsawan menempati strata teratas, sedangkan rakyat jelata yang terdiri
dari petani kecil, buruh, pengrajin, dan sebagainya merupakan lapisan bawah.
Setelah revolusi Industri muncul golongan baru, yaitu:
- Golongan Aristokrat, kaum bangsawan yang meskipun masih terhormat namun peran mereka dalam bidang ekonomi telah berkurang dan tersisih;
- Golongan Borjuis atau kapitalis, kelompok baru yang muncul. Mereka sebelumnya merupakan para tuan tanah yang mengalihkan usahanya ke bidang industri, sebagian lagi menjadi kaum pedagang yang memiliki modal besar dan para bankir. Golongan ini tidak menguasai sebagian besar ekonomi negara namun menguasai bidang politik melalui Majelis Rendah;
- Golongan Menengah ini terdiri dari para pegawai, pedagang kecil yang hidupnnya tidak tergantung pada pertanian;
- Kaum Buruh Pabrik, jumlahnya semakin hari semakin besar. Mereka bernasib tidak baik, upah mereka sangat ditentukan oleh para majikan;
- Petani Kecil, hidupnya semakin sulit karena peranan pertanian semakin merosot.
Dampak Revolusi Industri di bidang
ekonomi. Berbagai pendirian pabrik sangat membutuhkan kapital. Hal ini
memunculkan para pembisnis yang bertindak sebagai pengusaha. Para kapitalis
membentuk usaha bersama, membentuk organisasi perdagangan (koporasi). Mereka menganut
ekonomi liberal jadi menolak segala campur tangan negara dalam perusahaan,
sebab dianggap sebagai paksaan gilda yang mereka anggap telah menjadi usang.
Muncul
sistem kerja pabrik dan timbul apa yang dinamakan buruh pabrik. Kaum borjuis
yang sebagian menjadi kaum industrialis semata-mata mencari dan memupuk
kekayaan, mereka hanya memperhatikan hal-hal yang menurut mereka dapat
memperbesar keuntungan. Dalam hal ini yang menjadi korban adalah kaum buruh
karena mereka kawatir kehilangan sebagian keuntungannya jika memperhatikan dan
mengusahakan kesejahteraan kaum pekerja. Tenaga murah sengaja dieksploitasi,
para buruh dipaksa bekerja 10-18 jam sehari sesuai keinginan majikan. Para
majikan yang telah menjadi kaya dan melihat negaranya menjadi kuat dan disegani
berkat usaha mereka, tidak mengalami kesulitan dalam menemukan alasan-alasan
mengapa kaum buruh sedemikian keadaanya. Mereka menentang usaha-usaha
pemerintah untuk mencampuri dalam urusan-urusan ekonomi yang dapat dianggap
merugikan kepentingan mereka. Kaum borjuis atau kapitalis memiliki slogan
laissez faire (biarkan saja) keadaan ini
bukan kesalahan siapapun, melainkan sudah merupakan akibat alamiah berlakunya
hukum-hukum ekonomi, demikian pandangan kaum kapitalis.
Dampak dalam bidang ketenagaaan
menjadikan posisi tenaga kerja buruh sebagai kelas yang tertindas. Mereka
dikenal sebagai kelompok proletariat, bekerja di pabrik dan menerima upah yang
terlalu murah, bekerja sangat lama, tidak ada jaminan sosial, serta hidupnya
semakin sulit.
Revolusi
industri juga menghasilkan kaum tehnokrat atau tehnisi yang memegang peranan
penting dalam dunia industri. Karena tanpa kemahiran yang mereka miliki
tentunya tidak ada pabrik yang dapat berjalan atau bahkan didirikan. Kaum
tehnisi memperoleh penghargaan tinggi baik dalam arti materiil maupun status
sosial namun mereka tidak ikut memainkan peran penting dalam gerakan sosial dan
politik yang sedang dan akan terjadi.
Produksi mekanis juga menunjukkan
dampak segi negatif. Selain menghasilkan kemakmuran, zaman mesin ini juga telah
membawa bencana yang tidak terelakkan. Meskipun orang mencegah peraturan sosial
mengenai upah rendah, kerja bagi wanita dan kanak-kanak, kerja malam dan
perumahan yang buruk, tetapi disitu masih terdapat problem sosial, seperti
berjejalnya penduduk di kota-kota, berkuasanya motif mencari untung, kerangnya
hubungan kewargakotaan dan keagamaan. Selama periode industrialisasi, telah
menunjjukkan kemajuan hasil industri yang sangat pesat di antara
tahun1750-1850, produksi perkapita bertambah dua setengah kali. Kelas Atas dan
kelas Menengah memperoleh keuntungan di antara kehidupan kaum pekerja yang
miskin.
Proletariat industri tergantung dari
perekonomian dunia dan mereka sangat dieksploitasi. Organisasi pabrik,
kehidupan di pabrik, dan efisiensi tehnis tidak memperhitungkan kemanusiaan dan
nilai-nilai pekerja sebagai manusia, maka akibatnya sebagai reaksi keras kerap
kali timbul agitasi yang berkobar-kobar. Hubungan antara kapital dengan pekerja
menimbulkan masalah sosial yang tidak dapat dipecahkan hanya dengan
philantropy. Pekerja mulai sadar akan kedudukannya dan menjadi semakin peka
terhadap aturan perbaikan masyarakat.
Damapak negatif lain yang ditimbulkan
adalah hancurnya tata nilai lama. Bagi mereka yang dulu terbiasa bekerja di
desa kemudian tinggal dan bekerja di kota, tidak saja sistem kerja yang
dirombak tetapi juga seluruhsusunan kehidupan sosialnya berubah. Mereka
dicampakkan seorang diri ditengah-tengah kebisingan mesin dan pabrik, dimana
hanya ada oersaingan dan setiap orang hanya bisa menolong dirinya sendiri.
Kehidupan keluarga hilang karena kemiskinan, jerih payah dan jam-jam kerja yang
panjang. Sistem kekerabatan hilang karena tidak ada waktu untuk bersantai dan
tidak ada tempat berteduh untuk bercengkrama. Para buruh dari desa datang tanpa
ketrampilan, tidak hanya kehilangan hak-hak dan harga diri namun juga
kehilangan tradisi dan sistem nilai yang pernah ada. Alam industri membuat manusia bekerja bukan
menurut keinginannya sendiri tetapi diatur oleh kepentingan pihak lain dan
terkadang pekerja diperlakukan seperti mesin. Awal industrialisasi menunjukkan
gejala-gejala pelanggaran hak azasi manusia.
Selama awal abad XIX, telah terjadi
beberapa pemberontakan kaum buruh di Inggris pada tahun 1816, 1822, dan 1830.
Mereka tidak hanya menghancurkan pabrik-pabrik besar di Inggris tetapi juga
menuntut agar Parlemen melindungi hak-hak mereka namun dalam prakteknya
Parlemen tidak dapat membelaka kepentingan kaum miskin. Ikatan sekerja buruh
Inggris pada Abad XIX terus berjuang agar hak-hak mereka dapat terjamin dan
terpenuhi. Tahun 1809, pemerintahan Inggris mendirikan gedung khusus untuk
perusahaan asuransi dan diberi nama Room of Lloyd of London. Pada akhir Abad
XIX, Lloyd sebagai perusahaan asuransi disebut-sebut sebagai perusahaan
terbesar di dunia. Perusahaan ini memberikan banyak manfaat bagi para pekerja
yang ikut terdaftar demi memperbaiki nasib dan pekerjaan mereka di masa depan.
Tahun 1833, Parlemen telah membuat undang-undang untuk melindungi para tenaga
kerja. Para pengusaha pabrik dilarang memperkerjakan anak dibawah umur (kurang
dari 9 tahun), anak-anak yang berusia 9-13 tahun dapat dipekerjakan tidak lebih
dari 48 jam per minggu atau 9 jam perhari. Undang-undang ini khusus diterapkan pada
industri pertekstilan. Meskipun undang-undang ini telah dibuat namun
undang-undang ini masih berpihak pada para pemilik pabrik.
2.4 Terakhir
Memperkenalkan Industri 4.0
Memperkenalkan
revolusi perindustrian ke-empat pertama kali oleh pemerintah jerman pada tahun
2011.
Manufaktur
yang terhubung secara digital, yang seringkali disebut sebagai “Industry 4.0”,
mencakup berbagai jenis teknologi, mulai dari 3D printing hingga robotik, jenis
material baru serta sistem produksi.
Langkah
menuju Industry 4.0 ini akan memberikan
manfaat bagi sektor swasta. Produsen besar yang terintegrasi akan dapat
mengoptimalkan serta menyederhanakan rantai suplai mereka, contohnya melalui
sistem flexible factories . Sistem manufaktur yang dioperasikan secara digital
juga akan membuka peluang-peluang pasar baru bagi UKM peny
2.5 Pengertian Industri
Industri adalah suatu usaha atau kegiatan
pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi barang
jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan. Usaha perakitan
atau assembling dan juga reparasi adalah bagian dari industri. Hasil industri
tidak hanya berupa barang, tetapi juga dalam bentuk jasa.
Industri
adalah bidang matapencaharian yang menggunakan ketrampilan dan ketekunan kerja
(bahasa Inggris: industrious) dan penggunaan alat-alat di bidang pengolahan
hasil-hasil bumi dan distribusinya sebagai dasarnya. Maka industri umumnya
dikenal sebagai mata rantai selanjutnya dari usaha-usaha mencukupi kebutuhan
(ekonomi) yang berhubungan dengan bumi, yaitu sesudah pertanian, perkebunan dan
pertambangan yang berhubungan erat dengan tanah. Kedudukan industri semakin
jauh dari tanah, yang merupakan basis ekonomi, budaya, dan politik.
2.2 Jenis Industri
A.
Jenis Industri berdasarkan Bahan Baku
- Industri ekstraktifIndustri ekstraktif adalah industri yang bahan baku diambil langsung dari alam sekitar.- Contoh : pertanian, perkebunan, perhutanan, perikanan, peternakan, pertambangan, dan lain lain.
- Industri nonekstaktif Industri nonekstaktif adalah industri yang bahan baku didapat dari tempat lain selain alam sekitar.
- Industri fasilitatifIndustri fasilitatif adalah industri yang produk utamanya adalah berbentuk jasa yang dijual kepada para konsumennya.- Contoh : Asuransi, perbankan, transportasi, ekspedisi, dan lain sebagainya.
B.
Golongan / macam industri berdasarkan besar kecil modal
- Industri padat modaladalah industri yang dibangun dengan modal yang jumlahnya besar untuk kegiatan operasional maupun pembangunannya
- Industri padat karyaadalah industri yang lebih dititik beratkan pada sejumlah besar tenaga kerja atau pekerja dalam pembangunan serta pengoperasiannya.
C.
Jenis-jenis / macam industri berdasarkan klasifikasi atau penjenisannya=
berdasarkan SK Menteri Perindustrian No.19/M/I/1986 =
- Industri kimia dasar contohnya seperti industri semen, obat-obatan, kertas, pupuk, dsb
- Industri mesin dan logam dasarmisalnya seperti industri pesawat terbang, kendaraan bermotor, tekstil, dll
- Industri kecil Contoh seperti industri roti, kompor minyak, makanan ringan, es, minyak goreng curah, dll
- Aneka industrimisal seperti industri pakaian, industri makanan dan minuman, dan lain-lain.
D.
Jenis-jenis / macam industri berdasarkan jumlah tenaga kerja
- Industri rumah tanggaAdalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 1-4 orang.
- Industri kecilAdalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 5-19 orang.
- Industri sedang atau industri menengahAdalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 20-99 orang.
- Industri besarAdalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 100 orang atau lebih.
F.
Pembagian / penggolongan industri berdasakan pemilihan lokasi
- Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada pasar (market oriented industry)Adalah industri yang didirikan sesuai dengan lokasi potensi target konsumen. Industri jenis ini akan mendekati kantong-kantong di mana konsumen potensial berada. Semakin dekat ke pasar akan semakin menjadi lebih baik.
- Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada tenaga kerja / labor (man power oriented industry)Adalah industri yang berada pada lokasi di pusat pemukiman penduduk karena bisanya jenis industri tersebut membutuhkan banyak pekerja / pegawai untuk lebih efektif dan efisien.
- Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada bahan baku (supply oriented industry) Adalah jenis industri yang mendekati lokasi di mana bahan baku berada untuk memangkas atau memotong biaya transportasi yang besar.
E.
Macam-macam / jenis industri berdasarkan produktifitas perorangan
- Industri primer adalah industri yang barang-barang produksinya bukan hasil olahan langsung atau tanpa diolah terlebih dahuluContohnya adalah hasil produksi pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, dan sebagainya.
- Industri sekunder adalah industri yang bahan mentah diolah sehingga menghasilkan barang-barang untuk diolah kembali. Misalnya adalah pemintalan benang sutra, komponen elektronik, dan sebagainya.
- Industri tersierAdalah industri yang produk atau barangnya berupa layanan jasa. Contoh seperti telekomunikasi, transportasi, perawatan kesehatan, dan masih banyak lagi yang lainnya.
BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
1. Revolusi
Industri 4.0 Dan Arah Perkembangan Dunia
Saat ini, kita hidup di era Revolusi Industri Keempat (Klaus Schwab, The
Fourth Industrial Revolution (2017)). Era yang diwarnai oleh kecerdasan buatan
(artificial intelligence), era super komputer, rekayasa genetika, teknologi
nano, mobil otomatis, inovasi, dan perubahan yang terjadi dalam kecepatan
eksponensial yang akan mengakibatkan dampak terhadap ekonomi, industri,
pemerintahan, politik, bahkan membuka perdebatan atas definisi manusia itu
sendiri. Era yang menegaskan dunia sebagai kampung global (Marshall McLuhan,
The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (1962)).
Kini,
banjir informasi yang telah diprediksi
menemukan bentuknya (Alvin Toffler, Future Shock (1970)). Karena
kecanggihan teknologi, setiap orang kini bisa berpartisipasi dalam perdebatan
apa itu disruption, menjadi venture capitalist, atau penggagas start-up
company. Oleh teknologi kita semakin mudah melihat kesenjangan ekonomi,
kebangkitan neo-konservatisme, serta bagaimana Tiongkok perlahan bangun dari
tidur panjangnya menjelma menjadi negara adidaya. Beragam topik silih berganti
muncul mendominasi ruang publik sehingga kita mengenal istilah trending topic
(bagi pengguna sosial media).
Di tingkat pengambil keputusan, secara kategorial terdapat beberapa
bidang yang lebih menonjol menjadi pokok pembicaraan dibanding beberapa topik
lainnya. Topik lingkungan dengan isu pemanasan global yang sempat mendominasi
pada dekade 90-an dan awal dekade abad 21 kini tidak menjadi perhatian dunia.
Demikian juga isu kesehatan, khususnya AIDS dan kanker, yang mulai dilupakan
karena kemajuan teknologi kesehatan. Isu baru yang muncul dan menjadi ramai
diperbincangkan adalah bagaimana Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
mengubah wajah dunia dan persoalan kependudukan seperti pengungsi, kelaparan,
dan konflik horiziontal. Kedua isu ini menjadi pendamping isu politik dan
ekonomi yang senantiasa akan langgeng sepanjang peradaban.
Revolusi
Industri 4.0
Soal IPTEK, khususnya teknologi
internet, mendominasi setelah dekade pertama abad ini sempat memberikan
sentimen negatif akibat bubbling perusahaan IT yang mendorong hancurnya pasar
modal dunia pada tahun 2002. Tragedi yang selalu diingat dunia dan diberi nama
dot-com bubble, merupakan buah dari harapan berlebihan atas peningkatkan
teknologi internet dan penggunaannya. Beberapa perusahaan yang bergerak di
bidang internet seperti WorldCom, AOL, eToys.com, Webvan, Pseudo.com, Tiscali,
theGlobe.com, dan lain-lain, jatuh ke jurang kebangkrutan.
Perusahaan-perusahaan tersebut adalah pelopor di dunia digital seperti
perdangangan vitual (e-commerce), portal berita, sosial media, maupun jasa
provider yang kita kenal kini dengan perusahaan raksasa seperti amazon,
facebook, youtube, google, spotify, dan lain-lain.
Peristiwa dot-com bubble seperti mengulang peristiwa pembangunan kabel
trans-atlantik yang disponsori oleh Cyrus West Field pada era 1860-an. Dari
perspektif kapitalisme, baik dot-com bubble maupun Cyrus West Field, menjadi
korban sendiri dari keinginan untuk menikmati untung sebesar-besarnya pada
pasar baru (new market). Pada era 1800-an, London dan New York adalah jantung
kapitalisme dunia, namun belum tersambung melalui telegraf. Menghubungkan kedua
kota tersebut akan meningkatkan perdagangan dan berakhir dengan keuntungan
berlipat ganda.
Proyeksi pada keuntungan yang besar
membuat lupa bahwa teknologi belum siap untuk mendukung ide tersebut. Bila,
Cyrus West Field bangkrut dan meninggal dalam kemiskinan karena teknologi kabel
yang digunakan untuk menyambungkan daratan Amerika (New Foundland) hingga
Irlandia Utara tidak mampu mengatasi ekstrimnya Samudera Atlantik dan tingkat
kepanasan akibat transmisi gelombang yang disalurkan melalui kabel. Maka, di
2002, perusahaan dot.com gagal memenuhi janjinya memberikan keuntungan kepada
para pemegang saham seperti yang digembar-gemborkan dalam proyeksi karena
jumlah pelanggan internet, jumlah transaksi melalui internet (e-commerce),
maupun pengguna harian internet tidak seperti yang diharapkan. Hal tersebut,
juga disebabkan teknologi yang masih mahal, belum bersifat jinjing (portabel),
maupun kecepatan yang terbatas, sehingga membatasi kapasitas ekonominya.
Seiring dengan kemajuan teknologi
fiber-optik, prosesor, pita lebar, maupun gawai/perangkat, booming internet
menuju puncak. Bahkan dimana puncak tertingginya belum bisa diperkirakan. Berdasarkan publikasi yang diterbitkan oleh
International Telecommunications Union (ITU) pada tahun 2013 saja, dari 7,1
miliar penduduk dunia sebanyak 39 persen (sekitar 2,8 miliar) menggunakan
internet. Bahkan, akses terhadap internet telah dijadikan beberapa negara, seperti
Finlandia, sebagai hak dasar mengikuti resolusi
PBB pada tahun 2016.
Paradoks
Dunia
Kita telah menyaksikan dampak positif
dari perkembangan teknologi informasi seperti revolusi musim semi arab,
solidaritas dunia atas bencana tsunami Aceh maupun Jepang. Kemajuan teknologi
kesehatan menurunkan biaya operasi jantung, transplantasi organ, maupun
pengobatan menggunakan sel punca (stem cell). Di sisi lain, dampak negatif
kemajuan teknologi terjadi hampir di seluruh dunia tanpa memandang siapa yang
menjadi pelakunya. Amerika Serikat sebagai negara adidaya tunggal telah
memanfaatkan teknologi drone untuk melakukan pengeboman di Afganistan, Libya,
Irak, dan Syria, yang tidak sedikit mengakibatkan korban sipil. Di negara
sendiripun, dengan sistim super komputer yang dimilikinya, negara masuk hingga
ruang privat rakyatnya yang kemudian dibocorkan oleh Edward Snowden ke publik.
Selain negara, organisasi radikal seperti Al qaeda dan ISIS menggunakan
teknologi informasi untuk melakukan perekrutan, perencanaan, juga propaganda
seperti ekseskusi tanpa peri kemanusiaan.
Revolusi keempat sebagai kelanjutan
dari penemuan komputer dan teknologi digital yang dimulai pada era 50-an
ternyata tidak membuat penyelesaian masalah dunia menjadi lebih mudah. Dengan
sistim komputerasi, kepintaran buatan, arus informasi yang lebih cepat, analisa
data yang lebih baik dibantu oleh algoritma tingkat lanjutan, tidak membuat
kita bebas dari masalah klasik seperti kelaparan, eksploitasi negara maju
terhadap negara berkembang, akses kesehatan yang rendah, soal pengungsi,
terutama menjadikan dunia tempat yang aman bagi semua umat manusia.
Kemajuan teknologi bahkan menjadikan
masalah klasik tersebut sebagai bumbu menumbuhkan segregasi (pemisah). Hal ini
terlihat dari implikasi war on terror yang digagas George Bush Jr sebagai
jawaban atas peristiwa menara kembar. Efek yang timbul dari war on terror mampu
dioptimalkan target Amerika, yakni Al qaeda dan ISIS, yang juga menggunakan
teknologi informasi. Selain ajang propaganda, Al qaeda dan ISIS, menggunakan
teknologi infromasi (seperti media sosial) untuk melakukan perekrutan lone
wolf. Lone wolf inilah yang kemudian beraksi seperti pemboman di Boston (2013),
penembakan di Paris (2015), peristiwa penabrakan truk ke pengunjung pasar Natal
di Berlin (2016), penikaman di London (2017), dan beragam peristiwa lainnya.
Aksi ini menjadi bensin bagi api neo-konservatisme di Amerika dan Eropa yang
sebenarnya telah dikumandangkan oleh George Bush Jr sejak awal war on terror.
Hari Ini kita melihat dua neo-konservatisme saling berhadapan.
Paradoks yang paling memilukan adalah
kasus pengungsi yang terjadi sejak tahun 2015. Berdasarkan laporan UNHCR
(http://bit.ly/1YkKspr), tercatat 65,6 juta orang harus terusir dari rumahnya
sendiri. Kemah-kemah pengungsian di
Darfur menampung hingga 1 juta orang. Lebih dari 2 juta orang menyambung nyawa
agar bisa memasuki negara-negara Eropa. Banyak diantara mereka yang harus
berakhir di dinginnya Laut Tengah (dan Selat Gibraltar). Di Asia Tenggara,
sejak 2017, lebih dari 600 ribu orang Rohingya harus terkatung-katung karena di
Myanmar mereka mengalami pengusiran sistemik bahkan sering berakhir pada
pembunuhan. Sementara Bangladesh, negara tujuan terdekat dan diyakini sebagai
asal muasalnya, tidak mengakui mereka sebagai warga. Kendati tidak ada perang
dunia, jumlah pengungsi saat ini merupakan yang terbesar sejak Perang Dunia II.
Di tengah kemajuan teknologi, kita
menyaksikan bahwa negara-negara abai, lumpuh,dan hilang rasa kemanusiaan
terhadap mereka. Amerika yang memulai perang di Afganistan, Libya, atau Suriah
yang menjadi sumber pengungsi terbanyak merasakan manfaat atas letak
geografisnya. Tidak ikut menanggung krisis ini. Melalui kemajuan teknologi kita
menyaksikan bahwa pemimpin-pemimpin dunia saling berdebat namun nir-solusi.
Teknologi seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menyelesaian masalah paling
mendasar seperti ketersediaan air bersih, fasilitas sanitasi, menghitung
kebutuhan pangan dan sandang serta mencari sumber bahan pokok dari daerah yang
surplus untuk kebutuhan mereka. Kebutuhan-kebutuhan tersebut seharusnya bisa
segera dikirimkan kepada mereka. Logikanya, apabila drone, yang dioperasikan
dari Pentagon yang berjarak ribuan kilometer, bisa membawa bom hingga 2 ton dan
beroperasi di Pegunungan Hindush di Afganistan, mengapa tidak bisa mengirimkan
bahan pokok ke Darfur?
Persoalan
Kependudukan
Berdasarkan prediksi yang paling
sahih, pada akhir 2017, populasi bumi telah mencapai 7,5 miliar jiwa
(http://bit.ly/2gHveyg). Sejak Robert Malthus menyatakan bahwa pertumbuhan
penduduk seperti deret ukur sementara pertumbuhan bahan makanan seperti deret
hitung, telah muncul perdebatan apakah Bumi sanggup menopang populasinya? Pertanyaan itu telah dijawab oleh beberapa
ahli seperti Amartya Sen, peraih nobel ekonomi, yang menyatakan penyebab
kelaparan adalah hambatan politik dan tata ekonomi. Bukan karena dunia
kekurangan bahan makanan (Hunger In The Contemporary World, 1997).
Sementara, persoalan pertumbuhan
penduduk bumi yang tidak terkontrol paling tidak dapat diatasi dengan program
kontrasepsi. Setelah mengalami pertumbuhan 2,5 persen pada dekade 1960-an,
beberapa dekade terakhir pertumbuhan secara global pada kisaran 1 persen saja.
Pertambahan penduduk bumi di sisi lain disumbang oleh majunya ilmu kesehatan.
Penemuan vaksin, penurunan tingkat kematian bayi, serta meningkatnya tingkat
harapan hidup membuat penduduk bumi semakin padat.
Dalam hal kependudukan, tantangan
terbesar pada era revolusi keempat adalah peningkatan kualitas hidup warga
negara. Sekalipun semua negara telah setuju dengan Millenium Development Goals
(MDGs), namun hampir tiga perempat negara belum mampu keluar dari persoalan
penyediaan air bersih, akses pada kesehatan, asupan minimal kalori, malnutrisi,
listrik, termasuk akses pada pendidikan. Tanpa adanya pekerjaan yang layak,
seseorang tidak akan mampu mengakses kebutuhan dasar tersebut karena seluruhnya
telah mengalami komersialisasi melalui sistim pasar.
Seperti kita tahu, dampak dari
revolusi industri keempat salah satunya adalah otomatisasi dan berkurangnya
jumlah tenaga kerja manusia dalam produksi. Seperti dicatat oleh Klaus Schwab,
Industri IT di Lembah Silicon tahun 2014 menghasilkan pendapatan sebesar
AS$1,09 triliun hanya mempekerjakan 137,000 orang. Sementara tahun 1990an,
Detroit yang menjadi pusat tiga perusahaan otomotif besar dunia mempekerjaan
sepuluh kali lebih banyak untuk menghasilkan pendapatan yang sama (Scwab 2017,
op.cit. hal 10).
Oleh karena itu, bonus demografi yang diagung-agungkan sebagai salah satu
modal bagi sebuah negara untuk memutar ekonominya harus dipikir secara matang.
Ancaman pengangguran, gesekan sosial, peningkatan angka kriminilitas, serta
kemarahan sosial menjadi risiko melekat bagi setiap negara. Mengantisipasi
akses negatif ini, beberapa negara di Eropa seperti Jerman mulai memikirkan
cara mengantisipasinya. Jerman mulai membahas kebijakan pemberian tunjangan
pendapatan minimum (Mein Grundeinkommen) sebesar AS$1.100
(http://bit.ly/1s4c7GS dan http://bit.ly/1sbdseQ).
Tantangan
Indonesia
Di Indonesia sendiri, kehadiran
Revolusi Industri Keempat muncul kepermukaan dan menyentak kesadaran publik
saat terjadi pertarungan kepentingan antara taksi konvensional versus taksi
online pada tahun 2016. Kendati sebelumnya telah ada sinyal bahwa Indonesia
tidak bisa lepas dari dampak dari revolusi ini. 2011, Grup Djarum melalui PT
Global Digital Prima melakukan kerja sama strategis bernilai ratusan miliar
bersama Kaskus, sebuah situs perdangangan terbesar di Indonesia
(http://bit.ly/2HqNJPV). Beberapa bulan sebelumnya, portal berita detik.com
dibeli oleh Grup Para milik Taipan Chairul Tanjung seharga Rp 540 miliar.
Dampak kehadiran revolusi ini dapat
dilihat melaui Aksi 212 ketika jutaan umat islam melakukan demonstasi
dipersatukan isu penistaan agama (http://bit.ly/2of7jGh). Lebih kurang selama
satu bulan sebelum aksi puncak, terjadi perdebatan, sosialisasi, maupun
pengorganisasian lewat media sosial. Kita menyaksikan bagaimana teknologi
menunjukkan kuasanya, bahkan mendorong, bahwa pengkategorian secara sosilogis
atas islam santri-abangan mulai tidak relevan lagi pada era ini. Yang tak kalah
mengejutkan adalah pergeseran persepsi masyarakat terhadap Front Pembela Islam.
Berdasarkan penelitian Arie Setyaningrum Pamungkas dan Gita Octaviani, gerakan
ini memunculkan suatu potensi ancaman pada trandisi demokrasi Indonesia karena
berbasis tribalisme, dimana nasionalisme diterjemahkan secara “sempit” menjadi
nasionalisme yang didasari oleh pemusatan identitas etnis dan keagamaan
(http://bit.ly/2BAmp1h).
Melalui dua peristiwa ini, apakah
kita bisa menyimpulkan bahwa Indonesia sepenuhnya telah berada dalam Revolusi
Industri Keempat hingga relung terdalam? Bila kita menelisik data-data,
penetrasinya belum sepenuhnya menyentuh semua relung kehidupan dan tidak
merata. Dari kompilasi beragam data kita melihat bahwa pengguna internet
sebanyak 84 juta (33 persen, 2014), sekitar 50 juta penduduk belum menikmati
listrik (20 persen, 2014), penduduk miskin masih mencapai 26,58 juta orang
(2017), belum lagi angka rasio gini (kesenjangan) semakin melebar dari tahun ke
tahun. Hal itu diperparah bahwa 49,3 perekonomian dikuasai oleh 1 persen
penduduk kaya saja. Tidak menakjubkan apalagi Indonesia menduduki peringkat
ke-4 negara paling senjang di dunia.
Dengan demografi Indonesia yang
terdiri dari 66,5 persen berada di usia produktif (15-64 tahun) dan tinggal di
Pulau Jawa sebanyak 61 persen, maka kita rentan mengalami akses negatif dari
revolusi industri ini. Digitaliasi, otomatisasi, dan terjadinya perubahan
produksi, distribusi (perdagangan), membuat kesempatan kerja semakin menyempit.
Bukan saja kita berisiko mengalami peningkatan angka kriminalitas, tapi bahkan
ke risiko yang lebih besar seperti konflik horizontal yang mengarah pada
pecahnya NKRI. Sekali lagi, menjadi pertanyaan apakah bonus demografi itu
benar-benar keuntungan?
Dari data kependidikan penduduk
Indonesia, Berdasarkan hasil SP 2010, persentase penduduk 5 tahun ke atas
berpendidikan minimal tamat SMP/Sederajat sebesar 40,93 persen. Angka
Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi masih 31,75 persen (Tahun 2017). Ini
menunjukkan kualitas SDM menurut tingkat pendidikan formalnya relatif masih
rendah. Padahal, tingkat pendidikan memberikan kontribusi penting agar mampu
menjawab tuntutan jaman yang multi dimensional.
Tantangan Indonesia kedepan adalah
bagaimana pengambil kebijakan (khususnya pemerintah) mampu meramu kebijakan
yang bisa mengangkat harkat hidup mayoritas warganya di tengah perkembangan
teknologi dengan mempertimbangkan aspek demografi dan juga tingkat pendidikan
yang mayoritas masih rendah. Rasa-rasanya, pembangunan yang berlandaskan
agregat ekonomi hanya membuat yang kaya semakin kaya.
Solusi
Klasik
Ketika Soekarno menyampaikan pidato di
Sidang Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 30 September 1960 yang berjudul
Membangun Dunia Kembali (To Build The World A New), dia mengangkat beberapa
poin penting guna mewujudkan dunia yang lebih baik. Optimalisasi peran PBB,
kenyataan bahwa dunia saling terhubung, penggunaan prinsip-prinsip penyelesaian
persoalan sesuai dengan prinsip yang digariskan PBB dengan tidak menempuh jalan
kekerasan, merdeka dari penjajahan, dan pelucutan senjata
(http://bit.ly/2CulUCD).
Dua dekade terakhir kita menjadi
saksi bagaimana himbauan yang disampaikan 58 tahun lalu itu seperti suara
profetik (nubuat). Mengingatkan dunia bahwa universalisme, humanisme, dan
egaliterisme bangsa-bangsa bisa terancam masa mendatang. Ancaman itu kini
nyata: sebagai salah satu anggota istimewa PBB, Amerika-dan sekutunya-justru
memaksakan agendanya ke seluruh dunia melalui aksi sepihak (unilateral).
Menghentikan tindakan Amerika melanggar kedaulatan negara lain saja PBB tidak
sanggup, apalagi mengatasi akses yang timbul seperti pengungsi, mencegah korban
sipil, kerusakan ekonomi, maupun kehancuran kota-kota akibat perang. Sekalipun
Tiongkok sebagai kekuatan baru muncul yang hingga kini dianggap masih mendorong
optimalisasi peran PBB secara positif, namun layaknya kekuatan baru, Tiongkok
berhitung dengan cermat atas peran yang dijalankannya.
Negara-negara seperti kebingungan
menjawab perkembangan jaman. Jangankan untuk menaati prinsip saling menghormati
kedaulatan politik maupun teritorial, ia tidak mampu menjawab persoalan yang
diakibatkan perkembangan teknologi. Alih-alih bersepakat menemukan cara
menangani kekuatan kapitalisme agar menggunakan perkembangan teknologi untuk
kemaslahatan umat manusia, justru negara kalah terhadap kekuatan kapitalisme
baru ini. Kita melihat bahwa para venture capitalist seperti google mencurangi
kewajiban perpajakan disemua negara. Bagaimana aplikasi online jasa angkutan
seperti gojek, uber, maupun grab, mengangkangi Undang-Undang Transaportasi. Ide
sharing asset yang dimoneterisasi lewat perkembangan teknologi mendapat
legitimasi ditengah kebutuhan akan pekerjaan dan tarif yang lebih murah.
Kendati studi, misalnya studi Annette Bernhardt dari University of
California-Berkeley, menegaskan bahwa sistim ini sangat merugikan pemilik aset seperti
kendaraan karena posisi tawar yang rendah (http://bit.ly/2C4pasQ) .
Kita masih berada di awal revolusi.
Kita tidak tahu ke arah mana dunia bergerak sepenuhnya. Akankah para venture
capitalist akan sama seperti perusahaan multi nasional (MNCs) di era sebelumnya
yang menundukkan negara di bawah kuku kekuasaannya. Atau venture capitalist ini
bahkan lebih buas dari MNCs? Karena beberapa gagasan yang biasanya ditangani
negara, kini mereka mulai masuki seperti misi mengirimkan manusia ke luar
angkasa. Dengan beberapa pertanda jaman ini, apakah pemimpin-pemimpin negara
dunia akan membiarkan kekalahan serupa kepada modal? Syarat mutlak yang
diperlukan semua pemimpin-pemimpin negara, pendapat bahwa kita hidup di bumi
yang sama belum usang. Kita harus menemukan kesadaran dan semangat yang sama
bahwa tantangan saat ini tidak bersifat teritorial lagi.
=========================================================================
BAB
III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Revolusi
industri telah memberikan pengaruh yang besar bagi perkembangan perkembangan
perekonomian dan perkembangan kehidupan masyarakat maupun masyarakat di dunia. Revolusi industri
menghasilkan cara-cara menggunakan metode-metode produksi dan pola-pola baru
dalam kehidupan ekonomi dan memberikan beberapa perubahan dalam industri barang
dan dalam perdagangan. Hal ini memberikan
dampak positif dan negatif bagi masyarakat. Berbagai perusahaan yang dihasilkan
oleh proses industrialisasi berpengaruh bagi perkembangan transportasi,
komunikasi dan perdagangan. Meskipun kekayaan yang besar telah dihasilkan namun
distribusi kekayaan tidak dapat dicapai secara merata dan terjadi kesenjangan
sosial. Masyarakat yang hidup di kawasan industri menghadapi berbagai problem
seperti polusi, kemacetan, kebisingan, dan perkampungan kumuh. Dengan revolusi
industri maka zaman mesin telah dimulai. Irama mesin telah mengubah corak
kehidupan dunia kita sampai saat ini.
2. Saran ……………….
- Awal pelatihan yang diikuti 80 orang ini, mereka diharapkan menjadi pelatih bagi lembaga yang lain dalam.
- Dengan harapan
DAFTAR
PUSTAKA
- Sundoro, Mohammad Hadi.2007.Dari Renaisans sampai Imperialisme Modern.Jember:University Press.
- http://id.beritasatu.com/home/revolusi-industri-40/145390
- http://www.berdikarionline.com/revolusi-industri-4-0-dan-arah-perkembangan-dunia/
- Wikipedia – Indonesia Pengertian indusri ke 4pat
- https://www.kompasiana.com/ipe/5a488c8bdd0fa85b0f00ed52/apa-itu-revolusi-industri-4-0
- http://id.beritasatu.com/home/revolusi-model-bisnis-pada-era-industri-40/147399
Ilmu itu harus berbagi
Tidak berbagi dosa pasti
Silakan mengcopy tetapi bilang terima kasih ya
Dan kasih komentar di bawah
MAGISTER MANAJEMEN UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA PAPUA 2018
Komentar
Posting Komentar