Pemerintah Adopsi Era Industri 4.0

MAKALAH
JUDUL
PEMERINTAH MELATIH SERIBU PEJABAT ADOPSI ERA INDUSTRI 4.0
( Memenuhi Tugas Mata Kuliah MSDM Lanjutan )








DISUSUN OLEH :
NAMA                                    : LAKIEK SILIP
ANGKATAN : 27
TUGAS                                  : 3 Mata Kuliah MSDM lanjuta
Dosen Peng            : Dr. Arius Kambu, SE.,M.Si



PROGRAM STUDI MAGISTER MANAGEMENT
UNIVERSITAS CENDERAWASIH JAYAPURA PAPUA 2018

======================================================

DAFTAR ISI
Judul .............................................................................................................................1
Daftar Isi .......................................................................................................................2

BAB I Pendahulu ........................................................................................................4
1.1 Latar Belakang...........................................................................................4
1.2. Tujuan  ....................................................................................................4
1.3. Manfaat  ..... ............................................................................................5

  BAB Iii KAJIAN TEORITIS …………...………………………………………………….6
2.1    Tempat Pertama Kali Revolusi Industri Dilahirkan ………………..……... 6
2.2    Proses Revolusi Industri Terjadi …………………………………….……....6
2.3    Pengertian dan Tujuan, Syarat, Kriteria Industri ……………………..…. 11
2.4    Jenis Industri, Ciri-Ciri dan Pesebarannya ………………………………...11

BAB III
Pembahasan ............................................................................................................14

BAB IV Penutup ......................................................................................................20
a.    Kesimpulan ...........................................................................................20
b.    Daftar Pustaka ......................................................................................21





========================================================================



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
             Diawali dengan ditemukannya mesin uap yang mendorong revolusi industri atau dikenal juga dengan industri 1.0 pada tahun 1784, revolusi industri terus berkembang mulai saat itu. Revolusi industri menyebabkan peralihan penggunaan tenaga manusia dan hewan yang digantikan dengan teknologi mekanik. Industri 1.0 ini berkembang hingga akhir abad 19, yang kemudian pada awal abad 20 digantikan dengan industri 2.0 yaitu produksi massal yang menggunakan tenaga listrik. Pada awal tahun 1970 terjadi revolusi industri ketiga yaitu industri 3.0, pada revolusi ini mulai dikenal penggunaan alat elektronik dan IT untuk proses manufaktur otomatis. Proses manufaktur otomatis ini mulai menggantikan tugas-tugas operator dengan mesin dan robot. Revolusi industri keempat atau industri 4.0 terjadi pada tahun 2012, industri 4.0 memperkenalkan proses produksi Cyber-Physical. Industri 4.0 ini mengarah kepada proses manufaktur yang berbasis internet atau jaringan wireless. Penggunaan teknologi ini tidak hanya sebatas pada komunikasi, akan tetapi juga mencakup kontrol dan kendali jarak jauh (Wahlster, 2012).
        Pertumbuhan laju industri merupakan andalan pemerintah dalam upaya meningkatkan perekonomian di Indonesia. Perekonomian di Indonesia tidak akan berkembang tanpa dukungan dari peningkatan perindustrian sebagai salah satu sektor perekonomian yang sangan dominan di jaman sekarang.
       Langkah pemerintah untuk mengadopsi era industry ke eempat ini akan memberikan kesempatan dan peluang sebesar-besarnya kepada seluruh pejabat dan swasta dan masyarakat untuk meningkatkan daya saing di dunia persaingan serta perkembangan perekonomian Negara. Dengan adanya peluang 4.0 ini pemerintah jelih melihat peluang ini secara mata terbuka dan memanfaatkan peluang ini, jika peluang ini dilewatkan maka Negara ini berada dalam kondisi perekonomian yang terburuk. Pelatihan tenaga yang terbuka ini akan memberikan efek positif meningkatkan pengetahuan, pengalaman, untuk perkembangan dan kemajuan bangsa ini.
       Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis berkeinginan mengangkat masalah Adopsi industry 4.0 terhadap perkembangan perekonomian Indonesia. Makalah ini juga terdapat sejumlah faktor industri yang berperan penting dalam perkembangan ekonomi di era globalisasi ini.

1.2  Tujuan Penulisan
Dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Untuk mengetahui perkembangan industry awal hingga era baru
  2. Untuk mengetahui pengaruh perkembangan perindustrian terhadap perekonomian.
  3. Untuk mengetahui upaya pemerintah dalam meningkatkan perindustrian di Indonesia
  4. Untuk mengetahui upaya pemerintah mengahadapi era industry
  5. Mengatahui bagaimana proses revolusi industri terjadi.
  6. Mengetahui akibat yang ditimbulkan oleh revolusi  industri.
  7. Mengetahui proses penerapan era digital idustri 4.0 di indonesia

1.3   Manfaat
        Manfaat dari penulisan makalah adopsi era  industri 4.0 memberi pemahaman yang lebih kapada semua pembaca. Dimulai dari kelahiran revolusi industri, proses terjadinya revolusi industri sampai era industry 4.0 dan pada akibat-akibat yang ditimbulkan oleh revolusi industri itu sendiri.
Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan makalah ini adalah:


  1. Bagi Negara – Negara maju, Industri 4.0 dapat  menjadi cara terbaik untuk mendapatkan kembali daya saing insfrastruktur, khususnya bagi Negara-negara Eropa
  2. Bagi Negara-negara berkembangan, Industri 4.0 dapat membantu menyederhanakan rantai suplai produksi, yang dalam hal ini sangat dibutuhkan guna mengakali biaya tenaga kerja yang kian meningkat
  3. Bagi pemerintah dengan adanya industry 4.0 ini akan memperkuat regulasi IT
  4. Bagi sewasta meningkatkan daya saing yang efektif dalam persaingan era saat ini
  5. Sebagai salah satu tugas mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia lanjutan
  6. Menambah pemahaman dan cakrawala berfikir bagi penulis

















 ==========================================================



BAB II
KAJIAN TEORITIS
2.1  Tempat Pertama Kali Revolusi Industri Dilahirkan
Untuk mengetahui mengapa Revolusi Industri terjadi di Inggris dan bukan terjadi di tempat lain, yang perlu kita ketahui adalah syarat-syarat yang dapat menimbulkan revolusi industri itu, pendapatan-pendapatan yang merupakan langkah penting dalam perkembangannya dan akibat pentind dari revolusi itu. Ada beberapa faktor yang mendorong revolusi industri terjadi di Inggris, yakni sebagai berikut:
a)       Faktor Geografis
Letak geografis Inggris yang bersebelahan dengan samudra Atlantik memberikan banyak keuntungan bagi negara ini dan biasanya disebut sebagai “samudra dunia” pada masa itu. Pergeseran pusat kegiatan ekonomi dari Laut Tengah ke daerah pesisir Samudra Atlantik, ke negara Inggris dan Belanda. Pergeseran ini disebabkan karena penemuan jalan menuju benua Amerika dan timbulnya Kerajaan Turki-Islam dibagian timur Laut Tengah. Akibatnya, sejak abad XVIII posisi Inggris yang terletak di Samudra Pasifik memperoleh banyak keuntungan dari segi ekonomi, industri, dan perdagangan yang menyebabkan kemakmuran negara Inggris mulai meningkat karena keuntungan yang diperoleh.

b)      Faktor Modal
Kemakmuran yang mulai nampak di Inggris pada abad XVIII mulai nampak dan menempatkan negara tersebut memiliki banyak uang (modal). Selain itu, perolehan modal yang melimpah ini juga didapatkan dari tanah jajahan, yakni: emas dari Benggala dan India. Emas yang mengalir dari tanah jajahan merupakan salah satu syarat yang diperlukan bagi pertumbuhan industri. Investasi modal digunakan untuk memperluas lalulintas jalan-jalan di Inggris yang belum dapat dikatakan baik (jalan berpasir, sempit, pada saat musim panas menjadi jalan yang berdebu dan dalam musim dingin menjadi semacam kubangan). Dan dari pihak swasta ada yang berinisiatif memperbaiki jalan-jalan namun dengan memungut cukai jika orang memakai jalan tersebut.
Tampilnya kaum borjuis merupakan kesempatan yang baik untuk mendapatkan banyak keuntungan. Dengan cara harus meninggalkan cara-cara lama yang tidak memadai maka dicarilah cara-cara baru sebagai uapaya untuk meningkatkan usahanya. Misalnya ketika para pemilik pengecor besi mengetahui bahwa mereka tidak dapat melayani permintaan barang yang meningkat karena kekurangan bahan bakan pada masa itu karena masih mengguanakan bahan bakar kayu maka dicobalah pemakainan batu bara yang ternyata memiliki hasil lebih baik.

c)       Faktor Sumber Daya Manusia
Inggris memiliki ilmuwan terkenal yang berhasil mendorong banyaknya penemuan dalam bidang fisika dan teknologi terapan seperti yang ditemukan oleh Thomas Newcomen (1663-1792), ia disebut sebagai penemu pertama mesin uap yang dapat dipakai. Mesin tertua ini hanya dapat dipakai naik turun saja dan dapat digunakan untuk pompa tambang. James Watt orang yang berjasa sebagai pembuka jalan bagi modernisasi pertambangan (1736-1819), penemuan mesin yang ditemukan oleh Thomas Newcomen kemudian disempurnakan oleh James Watt ketika orang mulai tertarik untuk menggali tambang dengan arang batu dan besi, gerak turun naik dijadikan gerak putar hingga dapat digunakan untuk berbagai keperluan. James Hargreaves dikenal sebagai penemu mesin pintal (...-1778), Richard Arkwright dikenal sebagai penemu mesin tenun(1732-1792), Elie Whitney penemu cotton gin yakni alat yang dapat mengeluarkan biji dari serabut kapas (1765-1825), dan George Stephenson dikenal sebagai pemnbuat lokomotif dan pada tahun1830, ia berhasil mengendarai besi pertama antara Liverpool dan Manchester dengan kecepatan antara 19-46 km/jam(1781-1840). Sumber daya manusia ini merupakan salah satu komponen yang penting didalam revolusi industri.

d)      Faktor Sumber Daya Alam
Inggris memiliki sejumlah potensi daya alam yang menunjang, seperti: besi dan batu bara yang jumlahnya sangat melimpah, disamping tersedianya bahan mentah. Tersedianya sumber bahan mentah ini sebagian didapatkan dari tanah-tanah jajahan yang kemudian diolah menjadi barang jadi oleh mesin-mesin itu. Inggris memiliki armada laut yang sangat tangguh dan armada niaganya sangat besar yang menjamin pengangkutan bahan-bahan mentah dan barang-barang jadi ke dan dari pelabuhan-pelabuhan Inggris dengan lancar dan aman. Para buruhpun tersedia dalam jumlah besar diperuntukkan guna melayani mesin-mesin baru. Tenaga-tenaga buruh itu didapat dari bekas petani kecil korban revolusi Agraria dan banyak juga yang diperoleh dari orang-orang pencari kerja yang dahulu mendapat nafkah dari industri rumah tangga yang tidak mampu bersaing dengan industri-industri besar yang mulai bermunculan.

2.2  Proses Revolusi Industri Terjadi
Revolusi industri ini ditandai dengan adanya perubahan ekonomi dan teknik yang terjadi di Inggris pada abad XVIII dan XIX. Untuk membahas terjadinya revolusi industri kita terlebih dahulu membahas berbagai masalah yang medahului terjadinya revolusi, seperti Revolusi Agraria, Pertekstilan, Transportasi, dan Industri Besi dan Baja.
  1. Revolusi Agraria
Faktor penting dalam revolusi industri adalah terjadinya perubahan-perubahan dalam bidang pertanian yang kemudian disebut sebagai revolusi agraria. Sitem pembagian tanah untuk tujuan penggrapan yang berlangsung dan merupakan warisan feodal abad pertengahan  tidak dapat dipertahankan  lagi, lebih-lebih pada awal abad XVIII mulai terasa terjadinya pertambahan penduduk. Sistem manor yang menempatkan kedudukan lord dan petani, corak ekonomi rumah tangga alam yang harus memenuhi kebutuhan sendiri secara lambat laun mulai berubah kearah perdagangan pertanian menuju pada sasaran hasil panen untuk kepentingan pasar.
        Pada pertengahan abad XVIII terjadi gerakan pemagaran yang dianggap sebagai gerkan revolusi Agraria di Inggris. Pera pemilik tanah memiliki keinginan untuk meningkatkan hasil pertanian dan pertenakan dengan metode-metode baru yang ditemukan oleh Jethro Tull, Lord Charles Townshend, dan Robert Bakewell.
       Sistem pemagaran dan ladang tertutup ini sangat menguntungkan bagi pemilik tanah yang sebagai petani besar mengelola ladangnya sendiri namun sangat tidak menguntungkan bagi golongan petani kecil yang pada akhirnya mereka terpaksa menjual tanahnya kepada petani besar. Dengan demikian mereka menjadi orang-orang yang tidak memiliki tanah dan untuk mencari nafkah mereka menjadi buruh di usaha-usaha pertanian besar ataupun pabrik-pabrik yang sudah banyak mulai bermunculan. Meskipun sistem pemagaran dan ladang tertutup ini memberikan dampak negatif pada para petani kecil, tetapi dilihat dari kepentingan bangsa Inggris secara keseluruhan, sistem ini merupakan suatu keharusan. Berkat sistem ini produksi pertanian dan peternakan dapat ditingkatkan. Peningkatan ini sangat perlu mengingat terjadinya peningkatan jumlah penduduk di Inggris. Dari pertengahan hingga akhir abad XVIII penduduk Inggris dan Wales meningkat dari 6 juta menjadi 9 juta, dan seabad kemudian bahkan meningkat menjadi 36 juta jiwa.
       Revolusi Agraria telah menempatkan metode baru di bidang pertanian sehingga mendorong lebih cepatnya hasil-hasil pertanian seiring dengan laju pertambahan penduduk pada masa itu. Akibat Revolusi Agraria telah ditemukan tehnik unsur kimia untuk pertanian yang diciptakan oleh Von Liebig, seorang sarjana kimia bangsa Jerman (1840) yaitu melalui pemupukan yang mengandung unsur-unsur kimia, tanah bisa menjadi lebih subur dan banyak menghasilkan tanaman-tanaman pangan.

  1. Revolusi Pertekstilan
Setelah tahun 1500 beberapa penemu alat pintal berhasil. Pemakaian cara kerja mesin pintal dan tenun mendorong terjadinya Revolusi Pertekstilan. Dapat kita katakan bahwa Revolusi Pertekstilan merupakan awal Revolusi Industri. Alat untuk memisahkan biji-biji kapas yang masih terbuat dari kayu membutuhkan banyak tenaga manusia dan hal ini dinilai tidak efisien mengingat kebutuhan sandang sejak Abad XVIII di Eropa mulai meningkat. Seperti kita ketahui bahwa pada masa itu sumber bahan mentah kapas (tree wool) diimpor dari dunia timur dan proses pembuatan bahan sandang masih manual termasuk pembuatan kain wool. John Kay of Bury (d.1764) telah menemukan pengganti perkakas tenun manual dengan menggunakan mesin yang pertama. Penemuan alat ini mendorong percepatan cara kerja alat itu dalam memproses pembuatan kain.  Dalam tahun 1700, produksi tekstil terbesar dan terkenal adalah Inggris. Akibat uang melimpah, orang-orang dapat menanam modalnya dalam pemakaian mesin baru. Penemuan masin-mesin baru ini mendorong banyak didirikan pabrik-pabrik tekstil yang didirikan di tepi sungai-sungai deras karena daya pengeraknya adalah air bukan lagi manusia. Namun setelah menggunakan tenaga uap, pabrik-pabrik dapat didirikan dimanapun.
        Penggatian dari tenaga manusia ke tenaga mesin yang bersifat mekanis, tidak terlepas dari pertumbuhan penduduk Eropa yang meningkat. Daerah-daerah koloni Inggris khususnya di Amerika Utara sangat membutuhkan sandang dan untuk mencukupi hal tersebut, jumlah produksi harus ditingkatkan secara cepat melalui penggunaan mesin. James Hargreave, Richard Arkwright, dan Elie Whitney merupakan para penemu mesin baru dan berjasa menemukan cotton gin yaitu mesin pemisah biji kapas dan memudahkan kapas tampak lebih putih. Sejak digunakan cotton gin dalam waktu sehari menghasilkan ratusan pound kapas bersih dan produksi kapas di Amerika Serikat melonjak tajam dari 189.000 pound pada tahun1791 menjadi 2.000.000 pound dalam tahun 1860, dan patahun 1900 menjadi 5.000.000 pound.
        Persaingan tekstil dari dunia Timur mendorong para pengusaha tekstil Inggris untuk merebut kembali pasarannya di dalam negeri maupun di Eropa dan harus dilakukan perubahan peningkatan produksi maupun kualias barang. Untuk memenuhi hal tersebut perlu diciptakan mesin-mesin alat produksi baru.

  1. Revolusi Transportasi
        Pertengahan Abad XVIII, pengangkutan barang dari satu tempat ke tampat lain sangat lamban dari pada zaman pemerintahan Roma 15 abad sebelumnya dikarenakan buruknya kondisi jalan-jalan. Jalan-jalan hampir tidak dapat dilalui pada musim dingin, dan kuda-kuda beban serta sapi-sapi penarik merupakan satu-satunya alat pengangkut yang dapat digunakan. Sebagian besar kehidupan ekonomi di Inggris terpusat di daerah-daerah bagian timur, selatan, dan disekitar kota London, dan pengangkutan barang lewat sungai-sungai dirasa sudah mencukupi mengakibatkan belum adanya penanganan yang serius untuk memperbaiki jalur perhubungan sampai pada pertengahan abad ini.
         Sarana transportasi berupa jalan-jalan, jembatan-jembatan, dan alat angkutan harus disiapkan dengan baik baru disadari oleh Inggris sejak digunakannya batu bara sebagai bahan bakar pengecor besi dan pengerak mesin-mesin uap. Kehidupan ekonomi sebagian besar berubah ke utara karena pabrik-pabrik baru hampir semuanya berlokasi di utara agar dekat dengan tambang-tambang batu bara. Prasarana jalan amat penting untuk mengangkut bahan-bahan mentah serta keperluan-keperluan lainya ke pabrik-pabrik dan perkampungan-perkampungan industri. Hal ini mempermudah dan memperlancar pengangkutan barang-barang jadi dari daerah-daerah industri ke segala penjuru negeri bahkan kesegala penjuru dunia. Kaum industrialis mendesak pemerintahan agar jalan-jalan segera diperbaiki dan Parlemen memberikan respon positif dengan perusahaan dengan apa yang dinamakan Turnpike Acts yaitu undang-undang yang memberi wewenang kepada para tuan tanah dan usahawan yang berniat untuk membangun dan memelihara jalan-jalan serta memungut bayaran dari orang-orang yang menggunakan jalan tersebut. Dengan adanya undang-undang itu maka, dalam waktu yang tidak lama jaringan jalan-jalan yang agak bermutu telah dibangun di Inggris dibawah kekuasaan para pemegang Turnpike namun jalan-jalan itu masih sukar ditemui apalagi saat musim dingin.
         Baru pada awal Abad XIX dapat dibagun jalan-jalan yang tahan terhadap segala cuaca setelah Telford dan John Mac Adam menemukan cara-cara ilmiah untuk membangun jalan. Sementara itu, jalan-jalan yang masih kurang baik dan pungutan yang dirasa memberatkan bagi pengguna mendorong Duke of Brigewater untuk mengali saluran-saluran yang dapat digunakan sebagai sarana angkutan air. Hal ini segera diikuti oleh pengusaha lain sehingga dalam waktu yang relatif singkatjaringan saluran yang silang menyilang didaratan Inggris telah meliputi ratusan mil.
         Awal abad XIX dilakukan percobaan-percobaan dengan kapal-kapal yang digerakkan oleh tenaga mesin uap dengan hasil yang cukup memuaskan. Pada tahun 1820-an, kereta api pertama dicobakan dengan hasil yang memuaskan pula. George Stephenson (1781-1848) berhasil menemukan lokomotif yang digerakkan oleh tenaga uap dengan kecepatan 29 mil/jam dari daerah Liverpool ke Manchester mengalahkan kecepatan kereta uap sebelumnya yang memiliki kecepatan 5 mil/jam. Pemakaian transportasi dengan menggunakan lokomotif temuan Stepehenson ini mendorong para usahawan untuk memperluas jaringan kereta api di Inggris. Kereta api memiliki fungsi penting sebagai sarana darat karena tidak hanya untuk membawa para penumpang tetapi dapat juga digunakan untuk mengangkut barang. Maka, dibuatlah jalan-jalan kereta api di pusat-pusat industri seperti yang terdapat di Birmingham, Manchester, Leeds, dan Shaeffied, dan kemudian dihubungkan dengan setiap pelabuhan di London, Southampton, Plymouth, Bristol, dan Liverpool.
         Penggunaan mesin uap pada transportasi berkembang dengan cepat dan membantu perkembangan industri di Inggris. Lebih banyak bahan mentah, bahan bakar, dan bahan keperluan lainnya dapat diangkut ke daerah-daerah industri, dan sebaliknya, banyak barang-barang jadi diangkut dan dipasarkan kemanapun di dunia dengan lebih cepat dan murah.

  1. Revolusi Pengolahan Besi dan Batubara
        Kebutuhan besi yang meningkat mempenggaruhi industri logam menjadi keperluan pokok sebab perdagangan dan industri yang semakin luas. Sebelum tahun 1760an, penambangan besi dilakukan secara manual melalui tungku-tungku sederhana dengan menggunakan arang kayu yang dinilai kurang efisien dan hasilnya juga kurang maksimal dikarenakan pembuatan barang dari besi belum melalui pemrosesan besi dalam tanur-tanur yang bersuhu tinggi. Sementara itu, batubara menjadi menjadi barang tambang penting selama abad XVIII. Orang pertama yang berhasil menemukan batu bara untuk bahan melebur besi adalah Abraham Darby (sekitar tahun1700) dipicu penggunaan kayu hutan sebagai bahan bakar sangat merugikan hutan di Inggris dan menjadi gundul. Melalui percobaan itu, Darby membandingkan bahwa penggunaan arang kayu tidaklah efisien dan menguntungkan jika dibanding dengan pemakaian biji batubara. Penggunaan biji batubara ini juga lebih murah serta dapat menghasilkan barang-barang yang terbuat dari besi dalam jumlah besar.
         Penemuan Darby ini kemudian diperbaiki dan disempurnakan oleh dua insinyur mesin, yakni John Smeaton (1724-1792) dan Henry Cort (1740-1800). Dalam peleburan biji besi Darby menggunakan sumber tenaga air dengan komponen isi empat silinder dilengkapi dengan piston dan katup untuk mengerakkan roda air namun kedua insinyur itu menggunakan proses baru yaitu puddling (genangan air). Png-iron (besi tuang) ditempatkan kedalam reverberatory furnace (tungku yang bergema) kemudian dipanaskan dalam suhu tinggi sampai berubah menjadi tidak lagi mempunyai unsur karbon (decarbonized) yang berarti oksigennya terdapat dalam sirkulasi udara dalam tanur tersebut. Berkat penemuan ini produksi besi meningkat dari 48.000 ton pada tahun 1740 menjadi 8.000.000 pada tahun 1884 dan 7,517 puddling dioperasikan. Inggris dikenal sebagai negara penghasil besi dan baja yang berlimpah dan berkualitas tinggi dan mendapat julukan workshop of the world yaitu bengkel Eropa karena melimpahnya hasil industri besi dan juga menguasai pasar-pasar industri dunia di samping menjadi anutan dalam teknologi metal. Industrialisasi ini juga meluas ke kontinen, bahkan sampai Amerika Utara.

2.3  Dampak Yang Ditimbulkan oleh Revolusi Industri
         Revolusi Industri tidak hanya memacu meningkatnya barang-barang produksi di Inggris namun juga dapat mengubah struktur sosial kemasyarakatan. Perubahan ini menyentuh berbagai aspek kehidupan sosial ekonomi, sistem politik, dan sistem kekuasaan.
Dampak yang pertama adalah dalam masalah ekonomi yang membawa akibat sosial yang mendalam. Yaitu terjadi perpindahan penduduk dari desa-desa ke daerah-daerah industri yang sebagian besar terletak di Inggris barat laut. Ditinjau dari aspek sosial, terjadinya perubahan struktur masyarakat. Sebelum lahirnya revolusi industrio masyarakat Inggris merupakan masyarakat feodal, raja beserta kaum bangsawan menempati strata teratas, sedangkan rakyat jelata yang terdiri dari petani kecil, buruh, pengrajin, dan sebagainya merupakan lapisan bawah. Setelah revolusi Industri muncul golongan baru, yaitu:
  1. Golongan Aristokrat, kaum bangsawan yang meskipun masih terhormat namun peran mereka dalam bidang ekonomi telah berkurang dan tersisih;
  2. Golongan Borjuis atau kapitalis, kelompok baru yang muncul. Mereka sebelumnya merupakan para tuan tanah yang mengalihkan usahanya ke bidang industri, sebagian lagi menjadi kaum pedagang yang memiliki modal besar dan para bankir. Golongan ini tidak menguasai sebagian besar ekonomi negara namun menguasai bidang politik melalui Majelis Rendah;
  3. Golongan Menengah ini terdiri dari para pegawai, pedagang kecil yang hidupnnya tidak tergantung pada pertanian;
  4. Kaum Buruh Pabrik, jumlahnya semakin hari semakin besar. Mereka bernasib tidak baik, upah mereka sangat ditentukan oleh para majikan;
  5. Petani Kecil, hidupnya semakin sulit karena peranan pertanian semakin merosot.

         Dampak Revolusi Industri di bidang ekonomi. Berbagai pendirian pabrik sangat membutuhkan kapital. Hal ini memunculkan para pembisnis yang bertindak sebagai pengusaha. Para kapitalis membentuk usaha bersama, membentuk organisasi perdagangan (koporasi). Mereka menganut ekonomi liberal jadi menolak segala campur tangan negara dalam perusahaan, sebab dianggap sebagai paksaan gilda yang mereka anggap telah menjadi usang.
Muncul sistem kerja pabrik dan timbul apa yang dinamakan buruh pabrik. Kaum borjuis yang sebagian menjadi kaum industrialis semata-mata mencari dan memupuk kekayaan, mereka hanya memperhatikan hal-hal yang menurut mereka dapat memperbesar keuntungan. Dalam hal ini yang menjadi korban adalah kaum buruh karena mereka kawatir kehilangan sebagian keuntungannya jika memperhatikan dan mengusahakan kesejahteraan kaum pekerja. Tenaga murah sengaja dieksploitasi, para buruh dipaksa bekerja 10-18 jam sehari sesuai keinginan majikan. Para majikan yang telah menjadi kaya dan melihat negaranya menjadi kuat dan disegani berkat usaha mereka, tidak mengalami kesulitan dalam menemukan alasan-alasan mengapa kaum buruh sedemikian keadaanya. Mereka menentang usaha-usaha pemerintah untuk mencampuri dalam urusan-urusan ekonomi yang dapat dianggap merugikan kepentingan mereka. Kaum borjuis atau kapitalis memiliki slogan laissez faire  (biarkan saja) keadaan ini bukan kesalahan siapapun, melainkan sudah merupakan akibat alamiah berlakunya hukum-hukum ekonomi, demikian pandangan kaum kapitalis.
        Dampak dalam bidang ketenagaaan menjadikan posisi tenaga kerja buruh sebagai kelas yang tertindas. Mereka dikenal sebagai kelompok proletariat, bekerja di pabrik dan menerima upah yang terlalu murah, bekerja sangat lama, tidak ada jaminan sosial, serta hidupnya semakin sulit.
Revolusi industri juga menghasilkan kaum tehnokrat atau tehnisi yang memegang peranan penting dalam dunia industri. Karena tanpa kemahiran yang mereka miliki tentunya tidak ada pabrik yang dapat berjalan atau bahkan didirikan. Kaum tehnisi memperoleh penghargaan tinggi baik dalam arti materiil maupun status sosial namun mereka tidak ikut memainkan peran penting dalam gerakan sosial dan politik yang sedang dan akan terjadi.

         Produksi mekanis juga menunjukkan dampak segi negatif. Selain menghasilkan kemakmuran, zaman mesin ini juga telah membawa bencana yang tidak terelakkan. Meskipun orang mencegah peraturan sosial mengenai upah rendah, kerja bagi wanita dan kanak-kanak, kerja malam dan perumahan yang buruk, tetapi disitu masih terdapat problem sosial, seperti berjejalnya penduduk di kota-kota, berkuasanya motif mencari untung, kerangnya hubungan kewargakotaan dan keagamaan. Selama periode industrialisasi, telah menunjjukkan kemajuan hasil industri yang sangat pesat di antara tahun1750-1850, produksi perkapita bertambah dua setengah kali. Kelas Atas dan kelas Menengah memperoleh keuntungan di antara kehidupan kaum pekerja yang miskin.
        Proletariat industri tergantung dari perekonomian dunia dan mereka sangat dieksploitasi. Organisasi pabrik, kehidupan di pabrik, dan efisiensi tehnis tidak memperhitungkan kemanusiaan dan nilai-nilai pekerja sebagai manusia, maka akibatnya sebagai reaksi keras kerap kali timbul agitasi yang berkobar-kobar. Hubungan antara kapital dengan pekerja menimbulkan masalah sosial yang tidak dapat dipecahkan hanya dengan philantropy. Pekerja mulai sadar akan kedudukannya dan menjadi semakin peka terhadap aturan perbaikan masyarakat.
          Damapak negatif lain yang ditimbulkan adalah hancurnya tata nilai lama. Bagi mereka yang dulu terbiasa bekerja di desa kemudian tinggal dan bekerja di kota, tidak saja sistem kerja yang dirombak tetapi juga seluruhsusunan kehidupan sosialnya berubah. Mereka dicampakkan seorang diri ditengah-tengah kebisingan mesin dan pabrik, dimana hanya ada oersaingan dan setiap orang hanya bisa menolong dirinya sendiri. Kehidupan keluarga hilang karena kemiskinan, jerih payah dan jam-jam kerja yang panjang. Sistem kekerabatan hilang karena tidak ada waktu untuk bersantai dan tidak ada tempat berteduh untuk bercengkrama. Para buruh dari desa datang tanpa ketrampilan, tidak hanya kehilangan hak-hak dan harga diri namun juga kehilangan tradisi dan sistem nilai yang pernah ada.  Alam industri membuat manusia bekerja bukan menurut keinginannya sendiri tetapi diatur oleh kepentingan pihak lain dan terkadang pekerja diperlakukan seperti mesin. Awal industrialisasi menunjukkan gejala-gejala pelanggaran hak azasi manusia.
         Selama awal abad XIX, telah terjadi beberapa pemberontakan kaum buruh di Inggris pada tahun 1816, 1822, dan 1830. Mereka tidak hanya menghancurkan pabrik-pabrik besar di Inggris tetapi juga menuntut agar Parlemen melindungi hak-hak mereka namun dalam prakteknya Parlemen tidak dapat membelaka kepentingan kaum miskin. Ikatan sekerja buruh Inggris pada Abad XIX terus berjuang agar hak-hak mereka dapat terjamin dan terpenuhi. Tahun 1809, pemerintahan Inggris mendirikan gedung khusus untuk perusahaan asuransi dan diberi nama Room of Lloyd of London. Pada akhir Abad XIX, Lloyd sebagai perusahaan asuransi disebut-sebut sebagai perusahaan terbesar di dunia. Perusahaan ini memberikan banyak manfaat bagi para pekerja yang ikut terdaftar demi memperbaiki nasib dan pekerjaan mereka di masa depan. Tahun 1833, Parlemen telah membuat undang-undang untuk melindungi para tenaga kerja. Para pengusaha pabrik dilarang memperkerjakan anak dibawah umur (kurang dari 9 tahun), anak-anak yang berusia 9-13 tahun dapat dipekerjakan tidak lebih dari 48 jam per minggu atau 9 jam perhari. Undang-undang ini khusus diterapkan pada industri pertekstilan. Meskipun undang-undang ini telah dibuat namun undang-undang ini masih berpihak pada para pemilik pabrik.

2.4 Terakhir Memperkenalkan Industri 4.0
Memperkenalkan revolusi perindustrian ke-empat pertama kali oleh pemerintah jerman pada tahun 2011.
Manufaktur yang terhubung secara digital, yang seringkali disebut sebagai “Industry 4.0”, mencakup berbagai jenis teknologi, mulai dari 3D printing hingga robotik, jenis material baru serta sistem produksi.
Langkah menuju Industry 4.0  ini akan memberikan manfaat bagi sektor swasta. Produsen besar yang terintegrasi akan dapat mengoptimalkan serta menyederhanakan rantai suplai mereka, contohnya melalui sistem flexible factories . Sistem manufaktur yang dioperasikan secara digital juga akan membuka peluang-peluang pasar baru bagi UKM peny

2.5  Pengertian Industri
      Industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan. Usaha perakitan atau assembling dan juga reparasi adalah bagian dari industri. Hasil industri tidak hanya berupa barang, tetapi juga dalam bentuk jasa.
Industri adalah bidang matapencaharian yang menggunakan ketrampilan dan ketekunan kerja (bahasa Inggris: industrious) dan penggunaan alat-alat di bidang pengolahan hasil-hasil bumi dan distribusinya sebagai dasarnya. Maka industri umumnya dikenal sebagai mata rantai selanjutnya dari usaha-usaha mencukupi kebutuhan (ekonomi) yang berhubungan dengan bumi, yaitu sesudah pertanian, perkebunan dan pertambangan yang berhubungan erat dengan tanah. Kedudukan industri semakin jauh dari tanah, yang merupakan basis ekonomi, budaya, dan politik.

2.2  Jenis Industri
A. Jenis Industri berdasarkan Bahan Baku
  1. Industri ekstraktifIndustri ekstraktif adalah industri yang bahan baku diambil langsung dari alam sekitar.- Contoh : pertanian, perkebunan, perhutanan, perikanan, peternakan, pertambangan, dan lain lain.
  2. Industri nonekstaktif Industri nonekstaktif adalah industri yang bahan baku didapat dari tempat lain selain alam sekitar.
  3. Industri fasilitatifIndustri fasilitatif adalah industri yang produk utamanya adalah berbentuk jasa yang dijual kepada para konsumennya.- Contoh : Asuransi, perbankan, transportasi, ekspedisi, dan lain sebagainya.

B. Golongan / macam industri berdasarkan besar kecil modal
  1. Industri padat modaladalah industri yang dibangun dengan modal yang jumlahnya besar untuk kegiatan operasional maupun pembangunannya
  2. Industri padat karyaadalah industri yang lebih dititik beratkan pada sejumlah besar tenaga kerja atau pekerja dalam pembangunan serta pengoperasiannya.

C. Jenis-jenis / macam industri berdasarkan klasifikasi atau penjenisannya= berdasarkan SK Menteri Perindustrian No.19/M/I/1986 =
  1. Industri kimia dasar contohnya seperti industri semen, obat-obatan, kertas, pupuk, dsb
  2. Industri mesin dan logam dasarmisalnya seperti industri pesawat terbang, kendaraan bermotor, tekstil, dll
  3. Industri kecil Contoh seperti industri roti, kompor minyak, makanan ringan, es, minyak goreng curah, dll
  4. Aneka industrimisal seperti industri pakaian, industri makanan dan minuman, dan lain-lain.

D. Jenis-jenis / macam industri berdasarkan jumlah tenaga kerja
  1. Industri rumah tanggaAdalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 1-4 orang.
  2. Industri kecilAdalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 5-19 orang.
  3. Industri sedang atau industri menengahAdalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 20-99 orang.
  4. Industri besarAdalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 100 orang atau lebih.
F. Pembagian / penggolongan industri berdasakan pemilihan lokasi
  1. Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada pasar (market oriented industry)Adalah industri yang didirikan sesuai dengan lokasi potensi target konsumen. Industri jenis ini akan mendekati kantong-kantong di mana konsumen potensial berada. Semakin dekat ke pasar akan semakin menjadi lebih baik.
  2. Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada tenaga kerja / labor (man power oriented industry)Adalah industri yang berada pada lokasi di pusat pemukiman penduduk karena bisanya jenis industri tersebut membutuhkan banyak pekerja / pegawai untuk lebih efektif dan efisien.
  3. Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada bahan baku (supply oriented industry) Adalah jenis industri yang mendekati lokasi di mana bahan baku berada untuk memangkas atau memotong biaya transportasi yang besar.
E. Macam-macam / jenis industri berdasarkan produktifitas perorangan
  1. Industri primer adalah industri yang barang-barang produksinya bukan hasil olahan langsung atau tanpa diolah terlebih dahuluContohnya adalah hasil produksi pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, dan sebagainya.
  2. Industri sekunder adalah industri yang bahan mentah diolah sehingga menghasilkan barang-barang untuk diolah kembali. Misalnya adalah pemintalan benang sutra, komponen elektronik, dan sebagainya.
  3. Industri tersierAdalah industri yang produk atau barangnya berupa layanan jasa. Contoh seperti telekomunikasi, transportasi, perawatan kesehatan, dan masih banyak lagi yang lainnya.



















BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

1.       Revolusi Industri 4.0 Dan Arah Perkembangan Dunia
        Saat ini, kita hidup di era Revolusi Industri Keempat (Klaus Schwab, The Fourth Industrial Revolution (2017)). Era yang diwarnai oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence), era super komputer, rekayasa genetika, teknologi nano, mobil otomatis, inovasi, dan perubahan yang terjadi dalam kecepatan eksponensial yang akan mengakibatkan dampak terhadap ekonomi, industri, pemerintahan, politik, bahkan membuka perdebatan atas definisi manusia itu sendiri. Era yang menegaskan dunia sebagai kampung global (Marshall McLuhan, The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (1962)).
         Kini,  banjir informasi yang telah diprediksi  menemukan bentuknya (Alvin Toffler, Future Shock (1970)). Karena kecanggihan teknologi, setiap orang kini bisa berpartisipasi dalam perdebatan apa itu disruption, menjadi venture capitalist, atau penggagas start-up company. Oleh teknologi kita semakin mudah melihat kesenjangan ekonomi, kebangkitan neo-konservatisme, serta bagaimana Tiongkok perlahan bangun dari tidur panjangnya menjelma menjadi negara adidaya. Beragam topik silih berganti muncul mendominasi ruang publik sehingga kita mengenal istilah trending topic (bagi pengguna sosial media).
        Di tingkat pengambil keputusan, secara kategorial terdapat beberapa bidang yang lebih menonjol menjadi pokok pembicaraan dibanding beberapa topik lainnya. Topik lingkungan dengan isu pemanasan global yang sempat mendominasi pada dekade 90-an dan awal dekade abad 21 kini tidak menjadi perhatian dunia. Demikian juga isu kesehatan, khususnya AIDS dan kanker, yang mulai dilupakan karena kemajuan teknologi kesehatan. Isu baru yang muncul dan menjadi ramai diperbincangkan adalah bagaimana Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) mengubah wajah dunia dan persoalan kependudukan seperti pengungsi, kelaparan, dan konflik horiziontal. Kedua isu ini menjadi pendamping isu politik dan ekonomi yang senantiasa akan langgeng sepanjang peradaban.

Revolusi Industri 4.0
Soal IPTEK, khususnya teknologi internet, mendominasi setelah dekade pertama abad ini sempat memberikan sentimen negatif akibat bubbling perusahaan IT yang mendorong hancurnya pasar modal dunia pada tahun 2002. Tragedi yang selalu diingat dunia dan diberi nama dot-com bubble, merupakan buah dari harapan berlebihan atas peningkatkan teknologi internet dan penggunaannya. Beberapa perusahaan yang bergerak di bidang internet seperti WorldCom, AOL, eToys.com, Webvan, Pseudo.com, Tiscali, theGlobe.com, dan lain-lain, jatuh ke jurang kebangkrutan. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah pelopor di dunia digital seperti perdangangan vitual (e-commerce), portal berita, sosial media, maupun jasa provider yang kita kenal kini dengan perusahaan raksasa seperti amazon, facebook, youtube, google, spotify, dan lain-lain.
Peristiwa dot-com bubble  seperti mengulang peristiwa pembangunan kabel trans-atlantik yang disponsori oleh Cyrus West Field pada era 1860-an. Dari perspektif kapitalisme, baik dot-com bubble maupun Cyrus West Field, menjadi korban sendiri dari keinginan untuk menikmati untung sebesar-besarnya pada pasar baru (new market). Pada era 1800-an, London dan New York adalah jantung kapitalisme dunia, namun belum tersambung melalui telegraf. Menghubungkan kedua kota tersebut akan meningkatkan perdagangan dan berakhir dengan keuntungan berlipat ganda.
Proyeksi pada keuntungan yang besar membuat lupa bahwa teknologi belum siap untuk mendukung ide tersebut. Bila, Cyrus West Field bangkrut dan meninggal dalam kemiskinan karena teknologi kabel yang digunakan untuk menyambungkan daratan Amerika (New Foundland) hingga Irlandia Utara tidak mampu mengatasi ekstrimnya Samudera Atlantik dan tingkat kepanasan akibat transmisi gelombang yang disalurkan melalui kabel. Maka, di 2002, perusahaan dot.com gagal memenuhi janjinya memberikan keuntungan kepada para pemegang saham seperti yang digembar-gemborkan dalam proyeksi karena jumlah pelanggan internet, jumlah transaksi melalui internet (e-commerce), maupun pengguna harian internet tidak seperti yang diharapkan. Hal tersebut, juga disebabkan teknologi yang masih mahal, belum bersifat jinjing (portabel), maupun kecepatan yang terbatas, sehingga membatasi kapasitas ekonominya.
Seiring dengan kemajuan teknologi fiber-optik, prosesor, pita lebar, maupun gawai/perangkat, booming internet menuju puncak. Bahkan dimana puncak tertingginya belum bisa diperkirakan.  Berdasarkan publikasi yang diterbitkan oleh International Telecommunications Union (ITU) pada tahun 2013 saja, dari 7,1 miliar penduduk dunia sebanyak 39 persen (sekitar 2,8 miliar) menggunakan internet. Bahkan, akses terhadap internet telah dijadikan beberapa negara, seperti Finlandia, sebagai hak dasar mengikuti resolusi  PBB pada tahun 2016.

Paradoks Dunia
Kita telah menyaksikan dampak positif dari perkembangan teknologi informasi seperti revolusi musim semi arab, solidaritas dunia atas bencana tsunami Aceh maupun Jepang. Kemajuan teknologi kesehatan menurunkan biaya operasi jantung, transplantasi organ, maupun pengobatan menggunakan sel punca (stem cell). Di sisi lain, dampak negatif kemajuan teknologi terjadi hampir di seluruh dunia tanpa memandang siapa yang menjadi pelakunya. Amerika Serikat sebagai negara adidaya tunggal telah memanfaatkan teknologi drone untuk melakukan pengeboman di Afganistan, Libya, Irak, dan Syria, yang tidak sedikit mengakibatkan korban sipil. Di negara sendiripun, dengan sistim super komputer yang dimilikinya, negara masuk hingga ruang privat rakyatnya yang kemudian dibocorkan oleh Edward Snowden ke publik. Selain negara, organisasi radikal seperti Al qaeda dan ISIS menggunakan teknologi informasi untuk melakukan perekrutan, perencanaan, juga propaganda seperti ekseskusi tanpa peri kemanusiaan.
Revolusi keempat sebagai kelanjutan dari penemuan komputer dan teknologi digital yang dimulai pada era 50-an ternyata tidak membuat penyelesaian masalah dunia menjadi lebih mudah. Dengan sistim komputerasi, kepintaran buatan, arus informasi yang lebih cepat, analisa data yang lebih baik dibantu oleh algoritma tingkat lanjutan, tidak membuat kita bebas dari masalah klasik seperti kelaparan, eksploitasi negara maju terhadap negara berkembang, akses kesehatan yang rendah, soal pengungsi, terutama menjadikan dunia tempat yang aman bagi semua umat manusia.
Kemajuan teknologi bahkan menjadikan masalah klasik tersebut sebagai bumbu menumbuhkan segregasi (pemisah). Hal ini terlihat dari implikasi war on terror yang digagas George Bush Jr sebagai jawaban atas peristiwa menara kembar. Efek yang timbul dari war on terror mampu dioptimalkan target Amerika, yakni Al qaeda dan ISIS, yang juga menggunakan teknologi informasi. Selain ajang propaganda, Al qaeda dan ISIS, menggunakan teknologi infromasi (seperti media sosial) untuk melakukan perekrutan lone wolf. Lone wolf inilah yang kemudian beraksi seperti pemboman di Boston (2013), penembakan di Paris (2015), peristiwa penabrakan truk ke pengunjung pasar Natal di Berlin (2016), penikaman di London (2017), dan beragam peristiwa lainnya. Aksi ini menjadi bensin bagi api neo-konservatisme di Amerika dan Eropa yang sebenarnya telah dikumandangkan oleh George Bush Jr sejak awal war on terror. Hari Ini kita melihat dua neo-konservatisme saling berhadapan.
          Paradoks yang paling memilukan adalah kasus pengungsi yang terjadi sejak tahun 2015. Berdasarkan laporan UNHCR (http://bit.ly/1YkKspr), tercatat 65,6 juta orang harus terusir dari rumahnya sendiri. Kemah-kemah  pengungsian di Darfur menampung hingga 1 juta orang. Lebih dari 2 juta orang menyambung nyawa agar bisa memasuki negara-negara Eropa. Banyak diantara mereka yang harus berakhir di dinginnya Laut Tengah (dan Selat Gibraltar). Di Asia Tenggara, sejak 2017, lebih dari 600 ribu orang Rohingya harus terkatung-katung karena di Myanmar mereka mengalami pengusiran sistemik bahkan sering berakhir pada pembunuhan. Sementara Bangladesh, negara tujuan terdekat dan diyakini sebagai asal muasalnya, tidak mengakui mereka sebagai warga. Kendati tidak ada perang dunia, jumlah pengungsi saat ini merupakan yang terbesar sejak Perang Dunia II.
          Di tengah kemajuan teknologi, kita menyaksikan bahwa negara-negara abai, lumpuh,dan hilang rasa kemanusiaan terhadap mereka. Amerika yang memulai perang di Afganistan, Libya, atau Suriah yang menjadi sumber pengungsi terbanyak merasakan manfaat atas letak geografisnya. Tidak ikut menanggung krisis ini. Melalui kemajuan teknologi kita menyaksikan bahwa pemimpin-pemimpin dunia saling berdebat namun nir-solusi. Teknologi seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menyelesaian masalah paling mendasar seperti ketersediaan air bersih, fasilitas sanitasi, menghitung kebutuhan pangan dan sandang serta mencari sumber bahan pokok dari daerah yang surplus untuk kebutuhan mereka. Kebutuhan-kebutuhan tersebut seharusnya bisa segera dikirimkan kepada mereka. Logikanya, apabila drone, yang dioperasikan dari Pentagon yang berjarak ribuan kilometer, bisa membawa bom hingga 2 ton dan beroperasi di Pegunungan Hindush di Afganistan, mengapa tidak bisa mengirimkan bahan pokok ke Darfur?

Persoalan Kependudukan
Berdasarkan prediksi yang paling sahih, pada akhir 2017, populasi bumi telah mencapai 7,5 miliar jiwa (http://bit.ly/2gHveyg). Sejak Robert Malthus menyatakan bahwa pertumbuhan penduduk seperti deret ukur sementara pertumbuhan bahan makanan seperti deret hitung, telah muncul perdebatan apakah Bumi sanggup menopang populasinya?  Pertanyaan itu telah dijawab oleh beberapa ahli seperti Amartya Sen, peraih nobel ekonomi, yang menyatakan penyebab kelaparan adalah hambatan politik dan tata ekonomi. Bukan karena dunia kekurangan bahan makanan (Hunger In The Contemporary World, 1997).
Sementara, persoalan pertumbuhan penduduk bumi yang tidak terkontrol paling tidak dapat diatasi dengan program kontrasepsi. Setelah mengalami pertumbuhan 2,5 persen pada dekade 1960-an, beberapa dekade terakhir pertumbuhan secara global pada kisaran 1 persen saja. Pertambahan penduduk bumi di sisi lain disumbang oleh majunya ilmu kesehatan. Penemuan vaksin, penurunan tingkat kematian bayi, serta meningkatnya tingkat harapan hidup membuat penduduk bumi semakin padat.
          Dalam hal kependudukan, tantangan terbesar pada era revolusi keempat adalah peningkatan kualitas hidup warga negara. Sekalipun semua negara telah setuju dengan Millenium Development Goals (MDGs), namun hampir tiga perempat negara belum mampu keluar dari persoalan penyediaan air bersih, akses pada kesehatan, asupan minimal kalori, malnutrisi, listrik, termasuk akses pada pendidikan. Tanpa adanya pekerjaan yang layak, seseorang tidak akan mampu mengakses kebutuhan dasar tersebut karena seluruhnya telah mengalami komersialisasi melalui sistim pasar.
         Seperti kita tahu, dampak dari revolusi industri keempat salah satunya adalah otomatisasi dan berkurangnya jumlah tenaga kerja manusia dalam produksi. Seperti dicatat oleh Klaus Schwab, Industri IT di Lembah Silicon tahun 2014 menghasilkan pendapatan sebesar AS$1,09 triliun hanya mempekerjakan 137,000 orang. Sementara tahun 1990an, Detroit yang menjadi pusat tiga perusahaan otomotif besar dunia mempekerjaan sepuluh kali lebih banyak untuk menghasilkan pendapatan yang sama (Scwab 2017, op.cit. hal 10).
        Oleh karena itu, bonus demografi yang diagung-agungkan sebagai salah satu modal bagi sebuah negara untuk memutar ekonominya harus dipikir secara matang. Ancaman pengangguran, gesekan sosial, peningkatan angka kriminilitas, serta kemarahan sosial menjadi risiko melekat bagi setiap negara. Mengantisipasi akses negatif ini, beberapa negara di Eropa seperti Jerman mulai memikirkan cara mengantisipasinya. Jerman mulai membahas kebijakan pemberian tunjangan pendapatan minimum (Mein Grundeinkommen) sebesar AS$1.100 (http://bit.ly/1s4c7GS dan http://bit.ly/1sbdseQ).

Tantangan Indonesia
Di Indonesia sendiri, kehadiran Revolusi Industri Keempat muncul kepermukaan dan menyentak kesadaran publik saat terjadi pertarungan kepentingan antara taksi konvensional versus taksi online pada tahun 2016. Kendati sebelumnya telah ada sinyal bahwa Indonesia tidak bisa lepas dari dampak dari revolusi ini. 2011, Grup Djarum melalui PT Global Digital Prima melakukan kerja sama strategis bernilai ratusan miliar bersama Kaskus, sebuah situs perdangangan terbesar di Indonesia (http://bit.ly/2HqNJPV). Beberapa bulan sebelumnya, portal berita detik.com dibeli oleh Grup Para milik Taipan Chairul Tanjung seharga Rp 540 miliar.
Dampak kehadiran revolusi ini dapat dilihat melaui Aksi 212 ketika jutaan umat islam melakukan demonstasi dipersatukan isu penistaan agama (http://bit.ly/2of7jGh). Lebih kurang selama satu bulan sebelum aksi puncak, terjadi perdebatan, sosialisasi, maupun pengorganisasian lewat media sosial. Kita menyaksikan bagaimana teknologi menunjukkan kuasanya, bahkan mendorong, bahwa pengkategorian secara sosilogis atas islam santri-abangan mulai tidak relevan lagi pada era ini. Yang tak kalah mengejutkan adalah pergeseran persepsi masyarakat terhadap Front Pembela Islam. Berdasarkan penelitian Arie Setyaningrum Pamungkas dan Gita Octaviani, gerakan ini memunculkan suatu potensi ancaman pada trandisi demokrasi Indonesia karena berbasis tribalisme, dimana nasionalisme diterjemahkan secara “sempit” menjadi nasionalisme yang didasari oleh pemusatan identitas etnis dan keagamaan (http://bit.ly/2BAmp1h).
          Melalui dua peristiwa ini, apakah kita bisa menyimpulkan bahwa Indonesia sepenuhnya telah berada dalam Revolusi Industri Keempat hingga relung terdalam? Bila kita menelisik data-data, penetrasinya belum sepenuhnya menyentuh semua relung kehidupan dan tidak merata. Dari kompilasi beragam data kita melihat bahwa pengguna internet sebanyak 84 juta (33 persen, 2014), sekitar 50 juta penduduk belum menikmati listrik (20 persen, 2014), penduduk miskin masih mencapai 26,58 juta orang (2017), belum lagi angka rasio gini (kesenjangan) semakin melebar dari tahun ke tahun. Hal itu diperparah bahwa 49,3 perekonomian dikuasai oleh 1 persen penduduk kaya saja. Tidak menakjubkan apalagi Indonesia menduduki peringkat ke-4 negara paling senjang di dunia.
           Dengan demografi Indonesia yang terdiri dari 66,5 persen berada di usia produktif (15-64 tahun) dan tinggal di Pulau Jawa sebanyak 61 persen, maka kita rentan mengalami akses negatif dari revolusi industri ini. Digitaliasi, otomatisasi, dan terjadinya perubahan produksi, distribusi (perdagangan), membuat kesempatan kerja semakin menyempit. Bukan saja kita berisiko mengalami peningkatan angka kriminalitas, tapi bahkan ke risiko yang lebih besar seperti konflik horizontal yang mengarah pada pecahnya NKRI. Sekali lagi, menjadi pertanyaan apakah bonus demografi itu benar-benar keuntungan?
          Dari data kependidikan penduduk Indonesia, Berdasarkan hasil SP 2010, persentase penduduk 5 tahun ke atas berpendidikan minimal tamat SMP/Sederajat sebesar 40,93 persen. Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi masih 31,75 persen (Tahun 2017). Ini menunjukkan kualitas SDM menurut tingkat pendidikan formalnya relatif masih rendah. Padahal, tingkat pendidikan memberikan kontribusi penting agar mampu menjawab tuntutan jaman yang multi dimensional.
         Tantangan Indonesia kedepan adalah bagaimana pengambil kebijakan (khususnya pemerintah) mampu meramu kebijakan yang bisa mengangkat harkat hidup mayoritas warganya di tengah perkembangan teknologi dengan mempertimbangkan aspek demografi dan juga tingkat pendidikan yang mayoritas masih rendah. Rasa-rasanya, pembangunan yang berlandaskan agregat ekonomi hanya membuat yang kaya semakin kaya.

Solusi Klasik
Ketika Soekarno menyampaikan pidato di Sidang Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 30 September 1960 yang berjudul Membangun Dunia Kembali (To Build The World A New), dia mengangkat beberapa poin penting guna mewujudkan dunia yang lebih baik. Optimalisasi peran PBB, kenyataan bahwa dunia saling terhubung, penggunaan prinsip-prinsip penyelesaian persoalan sesuai dengan prinsip yang digariskan PBB dengan tidak menempuh jalan kekerasan, merdeka dari penjajahan, dan pelucutan senjata (http://bit.ly/2CulUCD).
          Dua dekade terakhir kita menjadi saksi bagaimana himbauan yang disampaikan 58 tahun lalu itu seperti suara profetik (nubuat). Mengingatkan dunia bahwa universalisme, humanisme, dan egaliterisme bangsa-bangsa bisa terancam masa mendatang. Ancaman itu kini nyata: sebagai salah satu anggota istimewa PBB, Amerika-dan sekutunya-justru memaksakan agendanya ke seluruh dunia melalui aksi sepihak (unilateral). Menghentikan tindakan Amerika melanggar kedaulatan negara lain saja PBB tidak sanggup, apalagi mengatasi akses yang timbul seperti pengungsi, mencegah korban sipil, kerusakan ekonomi, maupun kehancuran kota-kota akibat perang. Sekalipun Tiongkok sebagai kekuatan baru muncul yang hingga kini dianggap masih mendorong optimalisasi peran PBB secara positif, namun layaknya kekuatan baru, Tiongkok berhitung dengan cermat atas peran yang dijalankannya.
          Negara-negara seperti kebingungan menjawab perkembangan jaman. Jangankan untuk menaati prinsip saling menghormati kedaulatan politik maupun teritorial, ia tidak mampu menjawab persoalan yang diakibatkan perkembangan teknologi. Alih-alih bersepakat menemukan cara menangani kekuatan kapitalisme agar menggunakan perkembangan teknologi untuk kemaslahatan umat manusia, justru negara kalah terhadap kekuatan kapitalisme baru ini. Kita melihat bahwa para venture capitalist seperti google mencurangi kewajiban perpajakan disemua negara. Bagaimana aplikasi online jasa angkutan seperti gojek, uber, maupun grab, mengangkangi Undang-Undang Transaportasi. Ide sharing asset yang dimoneterisasi lewat perkembangan teknologi mendapat legitimasi ditengah kebutuhan akan pekerjaan dan tarif yang lebih murah. Kendati studi, misalnya studi Annette Bernhardt dari University of California-Berkeley, menegaskan bahwa sistim ini sangat merugikan pemilik aset seperti kendaraan karena posisi tawar yang rendah (http://bit.ly/2C4pasQ) .
Kita masih berada di awal revolusi. Kita tidak tahu ke arah mana dunia bergerak sepenuhnya. Akankah para venture capitalist akan sama seperti perusahaan multi nasional (MNCs) di era sebelumnya yang menundukkan negara di bawah kuku kekuasaannya. Atau venture capitalist ini bahkan lebih buas dari MNCs? Karena beberapa gagasan yang biasanya ditangani negara, kini mereka mulai masuki seperti misi mengirimkan manusia ke luar angkasa. Dengan beberapa pertanda jaman ini, apakah pemimpin-pemimpin negara dunia akan membiarkan kekalahan serupa kepada modal? Syarat mutlak yang diperlukan semua pemimpin-pemimpin negara, pendapat bahwa kita hidup di bumi yang sama belum usang. Kita harus menemukan kesadaran dan semangat yang sama bahwa tantangan saat ini tidak bersifat teritorial lagi.




















 =========================================================================

BAB III
PENUTUP

1.       Kesimpulan
Revolusi industri telah memberikan pengaruh yang besar bagi perkembangan perkembangan perekonomian dan perkembangan kehidupan masyarakat  maupun masyarakat di dunia. Revolusi industri menghasilkan cara-cara menggunakan metode-metode produksi dan pola-pola baru dalam kehidupan ekonomi dan memberikan beberapa perubahan dalam industri barang dan dalam perdagangan. Hal ini memberikan dampak positif dan negatif bagi masyarakat. Berbagai perusahaan yang dihasilkan oleh proses industrialisasi berpengaruh bagi perkembangan transportasi, komunikasi dan perdagangan. Meskipun kekayaan yang besar telah dihasilkan namun distribusi kekayaan tidak dapat dicapai secara merata dan terjadi kesenjangan sosial. Masyarakat yang hidup di kawasan industri menghadapi berbagai problem seperti polusi, kemacetan, kebisingan, dan perkampungan kumuh. Dengan revolusi industri maka zaman mesin telah dimulai. Irama mesin telah mengubah corak kehidupan dunia kita sampai saat ini.

2.       Saran ……………….
  1. Awal pelatihan yang diikuti 80 orang ini, mereka diharapkan menjadi pelatih bagi lembaga yang lain dalam.
  2. Dengan harapan
















DAFTAR PUSTAKA

  1. Sundoro, Mohammad Hadi.2007.Dari Renaisans sampai Imperialisme Modern.Jember:University Press.
  2. http://id.beritasatu.com/home/revolusi-industri-40/145390
  3. http://www.berdikarionline.com/revolusi-industri-4-0-dan-arah-perkembangan-dunia/
  4. Wikipedia – Indonesia Pengertian indusri ke 4pat
  5. https://www.kompasiana.com/ipe/5a488c8bdd0fa85b0f00ed52/apa-itu-revolusi-industri-4-0
  6. http://id.beritasatu.com/home/revolusi-model-bisnis-pada-era-industri-40/147399






















Ilmu itu harus berbagi
Tidak berbagi dosa pasti
Silakan mengcopy tetapi bilang terima kasih ya
Dan kasih komentar di bawah





MAGISTER MANAJEMEN UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA PAPUA 2018









Komentar